Bandung, Sekeping Wonderful Indonesia Yang Disukai Anak-Anak


Wonderful Indonesia, banyak orang yang mengaitkan frasa tersebut dengan keindahan alam yang dimiliki Indonesia. Tidak salah sih, namun menurut saya terlalu sempit jika hanya tentang keindahan alam saja. Indonesia itu wonderful berkat alamnya yang luar biasa indah, budaya daerahnya yang beragam, keragaman kulinernya yang kaya akan rasa, juga denyut kehidupan masyarakatnya yang dinamis. Banyak kota di Indonesia yang layak menyandang frasa Wonderful Indonesia, dan Bandung adalah salah satunya.

Bandung, Sekeping Wonderful Indonesia

Saat ditanya wisata apa yang bisa dinikmati di Bandung, biasanya orang akan menjawab wisata belanja di FO (Factory Outlet) dan wisata kuliner. Iya betul, dua hal itu yang banyak ditawarkan Bandung sebagai destinasi wisata. Deretan FO mulai dari Jl. Riau hingga Jl. Setiabudi siap memuaskan hasrat belanja baju branded dengan harga miring. Wisata kulinernya, jangan ditanya deh. Bandung itu menurut saya adalah salah satu kota yang inovatif banget untuk urusan kuliner. Entah sajian makanan/minumannya, entah tempat makannya, pokoknya selalu ada yang baru yang ditawarkan Bandung setiap waktu.

Sebagai destinasi wisata yang cukup populer, tentu Bandung tidak cuma punya dua jenis wisata itu saja. Keindahan alam tatar Parahyangan ini sudah sangat terkenal di mana-mana. Sebut saja wisata alam Lembang, kebun teh Ranca Bali Ciwidey, Tebing Kraton, pasti banyak orang Indonesia yang tahu. Atau ketika kita menyebut Kawah Putih dan Gunung Tangkuban Perahu, banyak wisatawan mancanegara yang sudah berkunjung ke sana. Belum lagi hasil kreativitas pengusaha-pengusaha kuliner Bandung yang memanfaatkan keindahan alam untuk dijadikan lokasi tempat makan. Sebut saja Floating Market Lembang, De Ranch Lembang, aneka resto dan cafe di kawasan Punclut, adalah segelintir dari tempat makan di Bandung yang memiliki pemandangan indah. Pengunjung dimanjakan dengan aneka sajian kuliner sambil menikmati keindahan alam dan menghirup udara segar. Kontur alam Bandung yang berbukit-bukit dan lereng gunung di beberapa area, menyajikan pemandangan alam yang menyegarkan mata dan mampu menghilangkan penat.


Salah satu aktifitas yang bisa dilakukan di De Ranch Lembang yang disukai anak-anak

Wisata budaya yang ditawarkan Bandung pun tak kalah menarik. Jika ke Bandung, jangan lupa masukkan kunjungan ke Saung Angklung Udjo ke dalam rencana perjalanan. Tempat ini sangat menarik dikunjungi oleh orang dewasa maupun anak-anak. Di sana kita bisa belajar tentang alat musik tradisional Sunda bernama angklung. Di Saung Angklung Udjo pengunjung tidak hanya disuguhi pertunjukan musik tradisional saja, namun juga diajak memainkan aneka lagu dengan angklung sebagai alat musiknya. Tak hanya anak-anak yang antusias, orang dewasa pun senang ikut serta dalam aktivitas ini. Saat saya, si Bocah, dan keponakan perempuan saya berkunjung ke sana, kami sangat menikmati kunjungan tersebut dan sangat senang mendapat kesempatan memainkan angklung secara berkelompok yang ditawarkan oleh Saung Angklung Udjo.

Pertunjukan musik angklung di Saung Angklung Udjo

Selain menonton pertunjukan angklung, kami pun diajak bermain angklung berkelompok di Saung Angklung Udjo.

Wisata Edukasi Anak Di Bandung

Saung Angklung Udjo hanyalah satu dari sekian banyak wisata budaya sekaligus wisata edukasi di Bandung yang bisa dinikmati anak-anak. Beberapa waktu lalu saat kami berlibur di Bandung, kami menjajal wisata edukasi lainnya yang cukup menyenangkan untuk anak-anak. Kali ini saya mengajak si Bocah dan sepupunya ke Museum Geologi Bandung dan naik Bandros (Bandung Tour On Bus).

Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung terletak di Jl. Diponegoro No 57, Bandung. Letaknya dekat dengan Gedung Sate yang merupakan gedung kantor Gubernur Jawa Barat. Jaraknya sekitar 200 meter ke arah timur dari Gedung Sate. Dengan lokasi yang strategis di tengah kota, Museum Geologi Bandung mudah diakses baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jika naik angkutan umum, ada angkot nomor 06 jurusan Cicaheum-Ledeng yang rutenya melewati museum ini. Alternatif lain, bisa naik bus Trans Metro Bandung koridor 3, turun di halte Jl. Surapati yang berada di belakang museum. Jika naik taksi, baik yang konvensional maupun taksi online (dan juga ojek online) tentu lebih mudah lagi karena bisa langsung turun di pintu gerbang museum.

Bagian depan Museum Geologi Bandung

Tiket masuk museum bisa dibeli di loket tiket. Harga tiket adalah Rp.2000 untuk anak-anak dan Rp.3000 untuk dewasa. Setelah membayar, petugas menyerahkan pada kami potongan tiket, stiker, dan kertas survei kepuasan pengunjung. Petugas loket meminta saya mengisi kertas kuesioner tersebut di akhir kunjungan dan menyerahkannya pada petugas di pintu keluar. Dengan harga tiket semurah itu, awalnya saya tidak berharap banyak akan mendapatkan sesuatu yang wah di dalam museum. Tapi ternyata saya salah. Di setiap ruangan saya terkagum-kagum dengan koleksi yang ada di museum ini.

Loket tiket Museum Geologi Bandung

Gedung museum peninggalan Belanda ini terdiri dari 2 lantai. Di lantai 1 terdapat Ruang Sejarah Kehidupan dan Ruang Geologi Indonesia, yang berisi tentang teori penciptaan alam semesta dan awal kemunculan kehidupan di bumi. Naik ke lantai 2 ada Ruang Sumberdaya Geologi dan Ruang Manfaat Dan Bencana Geologi. Di sini kita bisa melihat aneka sumber daya mineral yang ada di perut bumi, juga berbagai cerita kejadian bencana alam dahsyat yang pernah terjadi di bumi.

Ruang pertama yang kami jelajahi adalah Ruang Sejarah Kehidupan. Di ruang ini kita bisa mempelajari asal mula kehidupan di planet Bumi yang diperkirakan berlangsung lebih dari 2 milyar tahun yang lalu. Yang menarik di ruangan ini adalah koleksi replika tulang dinosaurus. Ada banyak macam dinosaurus yang tulang-tulangnya dipajang di sini. Yang paling menarik perhatian anak-anak, ya tentu saja Mr. T-Rex yang super tinggi itu.



Halo Mr. T-Rex!

Masuk ke Ruang Geologi Indonesia, kita disambut oleh sebuah bola dunia berukuran besar yang bisa berputar. Di bola dunia ini ada bagian yang menunjukkan irisan bagian dalam perut bumi. Kita jadi tahu ada lapisan apa saja di perut bumi. Di ruang ini kita bisa menonton film tentang planet dan teori terciptanya alam semesta. Yang paling menarik di ruangan ini adalah koleksi batu-batu mulianya. Si Bocah dan sepupunya sempat bercanda bahwa batu-batu itu milik Thanos (tokoh di film The Avengers) yang tertinggal di Indonesia. Hahaha.....ada-ada saja komentar para bocah ini.


Batu Thanos yang ketinggalan di Indonesia, kata bocah-bocah ini :D


Selesai menjelajah di lantai 1, kami lalu naik ke lantai 2. Di sini koleksi yang dipamerkan juga tak kalah menarik. Di Ruang Manfaat Dan Bencana Geologi kita bisa melihat cerita berbagai bencana alam besar yang pernah terjadi di bumi dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia. Di ruang ini terdapat mesin simulasi gempa, namun saat kami berkunjung ke sana mesinnya tidak bisa digunakan. Sayangnya tidak ada petugas yang berjaga di dalam yang bisa kami tanya apakah mesin tersebut sedang rusak atau memang tidak boleh digunakan. Di ruang ini juga dipajang beberapa benda milik penduduk yang tersisa saat Gunung Merapi di Jogja meletus pada tahun 2006 dan 2010.


Bagian dalam Ruang Manfaat Dan Bencana Geologi


Simulator gempa yang sayangnya tidak bisa dicoba

Di Ruang Sumberdaya Geologi dipajang aneka display bebatuan dan sumber daya mineral yang ada di perut bumi. Batu andesit, timah, besi, mangan, dan sumber daya mineral lainnya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Di kedua ruangan di lantai 2 ini penataan koleksinya banyak memanfaatkan teknologi digital. Sungguh menarik buat anak-anak. Namun sayangnya di ruang terakhir ini terasa agak panas, entah AC-nya dimatikan atau mungkin sedang rusak. Padahal di ruang-ruang sebelumnya terasa dingin dan sejuk. Karena panas, anak-anak jadi tidak betah berlama-lama di dalam. Ditambah lagi kaki mulai terasa pegal setelah menjelajah dua lantai gedung museum yang lumayan luas ini.





Selain keluhan tentang pendingin ruangan, setidaknya ada dua hal lain yang saya sayangkan dari museum ini. Yang pertama, tidak adanya pemandu yang bisa memberikan penjelasan dengan lebih interaktif. Memang semua koleksi diberi penjelasan panjang lebar, namun akan lebih baik jika ada pemandu yang bisa kita tanya-tanya sehingga informasi yang didapat bisa lebih lengkap dan jelas. Yang kedua, tidak ada kursi yang tersedia di lantai 2 untuk beristirahat sejenak. Area museum ini cukup luas, cukup membuat kaki pegal saat kita menjelajah di dalamnya. Alangkah baiknya jika di setiap lantai disediakan kursi untuk pengunjung beristirahat sejenak sebelum melanjutkan eksplorasi di tiap ruangnya. Semua kritik dan saran ini sudah saya tulis di lembar kuesioner yang diberikan petugas loket tiket tadi. Ini saya lakukan sebagai masukan untuk pihak pengelola museum agar ke depannya bisa memperbaiki layanan. Supaya museum yang nyaman, bersih, dan koleksinya bagus ini bisa lebih banyak lagi memberikan manfaat bagi pengunjungnya.

Bandros - Bandung Tour On Bus

Selesai mengeksplorasi Museum Geologi Bandung, agenda kami berikutnya adalah naik Bandros. Halte Bandros ada di seberang Museum Geologi, jadi kami tinggal menyeberang jalan di depan museum saja untuk menuju haltenya. Selain di Jl. Diponegoro ini, yang saya tahu halte Bandros lainnya ada di Balai Kota Bandung dan di Cihampelas Walk. Saat kami datang ada seorang petugas yang berjaga. Tidak ada loket khusus untuk penjualan tiket. Petugas mendata nama kita dan berapa orang yang akan ikut tur. Pendataan dilakukan untuk memastikan semua penumpang mendapat tempat duduk di atas bus. Cukup membayar Rp.20.000/orang kita sudah bisa menikmati tur bersama Bandros.

Bus Bandros ungu yang menemani tur kami

Saat bus datang, petugas memangil satu-persatu calon penumpang yang sudah mendaftar. Di atas bus kami melakukan pembayaran tiket dan petugas menyerahkan potongan tiket pada kami. Tidak ada nomor kursi di tiket, jadi penumpang bebas memilih mau duduk di mana. Di bagian belakang bus disediakan area untuk berdiri. Ukuran bus Bandros ini tidak terlalu besar, hanya cukup untuk 24 penumpang. Model busnya semi terbuka, tidak tertutup seperti bus pada umumnya. Saat ini pemkot Bandung memiliki 18 buah bus Bandros yang dicat berbeda-beda warna. Dengan desain artdeco dan cat warna-warni mencolok, kehadiran bus ini di jalan raya cukup menarik perhatian para pengguna jalan.

Bagian dalam bus Bandros

Menurut informasi petugas, bus Bandros ungu yang kami naiki hari itu seharusnya mengambil rute Cihampelas, namun karena jalan ke arah sana macet jadi rutenya dialihkan ke Alun-Alun Bandung. Adapun rute perjalanan kami kali ini adalah : Halte Jl. Diponegoro - Taman Pramuka - Jl. Ahmad Yani (Kosambi) - Jl. Asia Afrika - Alun-Alun Bandung - Cikapundung - Balai Kota - Jl. Wastukencana - Jl. Dago - Halte Jl. Diponegoro.

Di sepanjang perjalanan kami melewati banyak gedung dan area bersejarah di kota Bandung. Sayangnya, lagi-lagi kami tidak berjodoh dengan yang namanya pemandu. Di perjalanan tur bersama Bandros kali ini kami tidak didampingi oleh pemandu. Padahal menurut adik ipar saya biasanya selalu ada pemandu yang menemani perjalanan dan memberikan penjelasan sepanjang tur berlangsung. Sungguh disayangkan, karena dengan ketiadaan pemandu, unsur edukasi dalam tur Bandros ini jadi berkurang bahkan bisa dikatakan hilang. Namun dari segi rekreatif kami tetap menikmati perjalanan ini dan senang bisa naik bus unik berwarna mencolok ini.

Saran saya untuk pengelola Bandros ini adalah : (1) selalu sediakan pemandu untuk setiap tur, (2) sediakan loket tiket dan kursi tunggu yang memadai di halte. Loket tiket berguna agar antrian pengunjung bisa terlihat jelas dan tidak berdesakan minta didahulukan oleh petugas pendata pendaftaran. Lebih bagus lagi jika tiket bisa dibeli secara online sehingga bisa mengurangi antrian pengunjung di halte. Kursi untuk menunggu juga alangkah baiknya jika tersedia di halte, jadi saat menunggu bus datang kita tidak perlu duduk di pinggir trotoar.





Bandung yang saya ceritakan di atas sejatinya hanya kepingan kecil dari Wonderful Indonesia yang begitu luas. Saya bangga dengan Indonesia dan ingin anak saya pun memiliki rasa bangga yang sama terhadap negerinya. Rasa bangga dan cinta tanah air sekiranya bisa ditanamkan sejak kecil, salah satunya adalah dengan sering mengajak anak mengunjungi wisata alam, menikmati wisata budaya, mempelajari sejarah dengan mengunjungi museum atau ikut tur dalam kota, dan aneka wisata edukatif lainnya yang ada di Indonesia.

Kamu juga bangga dengan Wonderful Indonesia? Ayo bagikan ceritamu dan ikuti Wonderful Indonesia Blog Competitions 2018 yang informasinya tercantum pada poster di bawah ini atau baca syarat dan ketentuannya di sini ya.







- arry -



Museum Geologi Bandung
Jl. Diponegoro No 57 Bandung
Telp : 022 - 7213822
Jam buka : 
Senin - Kamis pk.08.00-16.00 WIB
Sabtu - Minggu pk.08.00-14.00 WIB
Jumat tutup
Website : museum.geology.esdm.go.id

You Might Also Like

26 komentar

  1. Kalau di Jogja ada museum biologi, maka di Bandung ada museum geologi ya. Anakku takut ga ya lihat tulang, hehe. Angklung mau ah kenalin ke anak-anak kalo ke Bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulang dino gitu lucu-lucu kok, gak ada serem-seremnya. Hehe. Saung Angklung Udjo seru banget deh kalo dikunjungi bareng anak-anak, mbak.

      Hapus
  2. Bandung, semoga kesampaian bisa mengajak anak-anak wisata edukasi ke sana. Makasih informasinya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bandung seru mbak utk dikunjungi bareng anak-anak ;)

      Hapus
  3. 5 bulan jadi warga sementara di Bandung, saya bahkan belum sempat ke Museum Geologi itu. Duh, terus saya ngapain saja cobak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang mbak, aku pun setelah jadi warga Jogja akhirnya tau dalemnya museum ini kayak gimana. Hihi

      Hapus
  4. Bandung tu selain tempat wisata bagus2, kulinernya juga enak2 ya... 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya kalo ke Bandung bawa sangu yg banyak aja deh mbak, biar puas piknik, belanja, dan kulineran. Haha

      Hapus
  5. Huyzz.. travel blogger beneran deh si kakak ini. Tiap buka blognya isinya liburan melulu 😍 btw udah inget film Jurassic Park deh gr2 lihat T-rex nya itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya abisnya cuma itu topik yg paling lancar ditulisnya Kak. Haha

      Hapus
  6. ada tulang dinosaurusnya juga to mbak. Trex ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Replika mbak. Kan emang di Indonesia nggak pernah ditemukan tulang-tulang dino. Hu-um T-Rex, yg tangannya pendek itu. Kata suamiku, kayak si unyil. Qiqiqi

      Hapus
  7. Semoga tahun depan bisa ke Bandung lagi, belum pernah ke Museum Geologi Bandung.
    Di Saung nya Mang Ujo memang bagus tempatnya, unik, dan betaaaah lama-lama disitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Besok ke Museum Geologi sekalian naik Bandros, mbak. Tinggal nyebrang, haltenya di seberang museum ;)

      Hapus
  8. Aku juga udah sampee Saung Mang Udjo, kerennnn banget yaaa mb performancenyaa. Pantes ampe sering tampil di mancanegara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyesss. Beberapa kali juga memecahkan rekor dunia bermain angklung bersama dengan ribuan peserta ;)

      Hapus
  9. Ah, ibu traveler ini, suka banget ajak anak jalan-jalan ke tempat-tempat yang mengedukasi ...
    Semoga sukses dan menang kompetisinya ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin....terima kasih doanya, mbak Nisya :*)

      Hapus
  10. itinerary wajib kl ke Bandung niii, makasih ya mba Arry tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiippp. Selamat jalan-jalan ke Bandung ya Manda.

      Hapus
  11. travelling trs euy

    .. aq gelem mbak

    BalasHapus
  12. The Best dah Klung-Klung Klung main angklunggg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru deh main angklung bareng-bareng gitu ;)

      Hapus
  13. Uwiiii aku pernah rekomendasiin ke pembacaku untuk mampir sini niiih. Tapi ini ngerekomendasiinnya bukan karena aku dah ke sana, melainkan karena aku PENGEN ke sana HAHAHAHA. Sediii belum jadi2 terus ke Bandung :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwiiii.....ayo halan halan ke Bandung, mbak Ifa :)

      Hapus