Terpesona Batik Kuno Di Museum Batik Pekalongan


Saya penyuka Batik Tiga Negeri kuno dan bercita-cita ingin mengunjungi ketiga tempat Batik Tiga Negeri dibuat, yaitu Solo, Pekalongan, dan Lasem. Solo, karena letaknya tidak jauh dari Jogja, sudah saya kunjungi duluan. Pekalongan dan Lasem, keduanya cukup jauh dari Jogja, dan belum pernah saya kunjungi. Maka ketika ada kesempatan untuk berkunjung ke Pekalongan, saya pun melonjak kegirangan. Sudah bisa ditebak dong tempat wajib kunjung yang berada di urutan paling atas di list saya. Ya, tentu saja : Museum Batik Pekalongan.
Gedung kantor pos Pekalongan

Museum ini berlokasi di daerah Jatayu yang merupakan kawasan budaya dengan banyak bangunan kuno di Pekalongan. Di belakang museum ada bangunan penjara yang pada zaman Belanda merupakan sebuah benteng penyimpanan senjata, yang dulu bernama Fort Peccalongan. Masih di area yang sama, saya melihat ada sebuah gereja yang menempati sebuah gedung tua dan juga ada gedung Kantor Pos Pekalongan yang bangunannya walau sudah tua namun masih terlihat kokoh. Gedung yang berdiri sejak tahun 1756 ini sampai sekarang masih difungsikan sebagai sebuah kantor pos.

Bagian depan Fort Peccalongan yang saat ini difungsikan untuk rutan. Bangunan depan sudah berupa bangunan baru.

Museum Batik Pekalongan sendiri berdiri pada tahun 1906 dan kala itu difungsikan sebagai kantor keuangan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini beralih fungsi menjadi balai kota, dan akhirnya pada tahun 2006 dijadikan Museum Batik Pekalongan. Menurut cerita salah seorang staf museum, Bu Vanda, karena dulunya adalah kantor keuangan, maka gedung ini memiliki brankas dalam bunker bawah tanah yang dulu dipakai untuk menyimpan uang. Sekarang bunker tersebut digunakan untuk menyimpan kain batik koleksi museum yang jumlahnya mencapai 1255 buah. Bunker tersebut merupakan tempat ideal untuk menyimpan kain batik karena terisolir, tidak bersentuhan langsung dengan udara luar, sehingga melindungi koleksi batik museum dari debu dan serangga.

Ruang display di museum ini terdiri dari tiga buah ruangan. Koleksi di ruang display 1 dan 3 diganti setahun sekali, biasanya di bulan September, sementara untuk ruang display 2 koleksinya berganti setiap empat bulan sekali. Saat kami berkunjung, di ruang display 1 terdapat koleksi bahan pewarna batik baik yang alami maupun sintetik. Di ruangan yang sama, ditamplikan koleksi kain batik pedalaman, yaitu dari Jogja dan Solo yang didominasi warna sogan (coklat). Di ruang display 2 dan 3 diisi dengan koleksi aneka kain batik. Yang paling saya suka ada di ruang display 2. karena di sini banyak ditampilkan koleksi Batik Tiga Negeri kuno. Rasanya ingin saya bawa pulang semua Batik Tiga Negerinya, cantik-cantik banget dan kondisinya prima semua. Karena merupakan kain koleksi, yang kemungkinan dijaga dan dirawat dengan baik oleh pemiliknya, maka kondisi kainnya juga terlihat sangat bagus meski sudah berumur puluhan tahun. Koleksi kain batik di museum ini banyak yang merupakan sumbangan dari kolektor batik, jadi sudah pasti dirawat baik-baik oleh pemiliknya.


Batik Tiga Negeri Pekalongan

Bahan pewarna alami

Ada kekaguman tersendiri yang melintas di benak saya setiap kali memandang kain Batik Tiga Negeri kuno. Goresan cantingnya begitu halus dan gambarnya dibuat detil, tentu dikerjakan dengan canting ukuran kecil untuk mendapatkan gambar motif sedetil itu. Hampir tidak ada ruang kosong di setiap helai kainnya, isen-isen (hiasan pengisi ruang kosong dalam motif batik) menghiasi seluruh bagian kain. Sejarah di balik pembuatan kain Batik Tiga Negeri ini juga menimbulkan decak kagum. Betapa tidak, kain batik ini diberi nama Tiga Negeri bukan karena tanpa alasan. Nama tersebut diberikan karena memang pembuatannya dilakukan di tiga daerah berbeda dengan jarak yang cukup jauh dan keterbatasan alat transportasi pada masa itu. Konon, itu dilakukan demi mendapat pewarna kain yang ada di tiap daerah tersebut, yaitu warna coklat dari Solo, biru dari Pekalongan, dan merah dari Lasem. Perbedaan kondisi tanah tempat tanaman pewarna tersebut ditanam dan air tanah yang digunakan dalam proses pembuatan batik, membuat warna-warna yang dihasilkan di tiap daerah berbeda-beda. Menurut penjelasan Mas Deni, staf Museum Batik Pekalongan yang hari itu menjadi pemandu kami, di Pekalongan pernah dicoba ditanam pohon secang demi mendapatkan warna yang sama dengan warna merah seperti di Lasem, namun hasilnya ternyata tetap tidak bisa sama. Warna merah khas Lasem yang disebut-sebut serupa dengan warna darah ayam, sulit dihasilkan di daerah lain karena kandungan mineral air tanah di Lasem yang berbeda dengan daerah lain.

Batik Tiga Negeri yang pengerjaannya begitu detil

Tambahan info dari Bu Vanda juga memberi pemahaman baru bagi saya mengenai Batik Tiga Negeri. Menurut Bu Vanda, penamaan 'tiga negeri' itu mengacu pada tiga unsur budaya yang terdapat dalam Batik Tiga Negeri, yaitu budaya Jawa, Cina, dan Eropa (Belanda). Perpaduan yang cantik dan harmonis di antara ketiga budaya tersebut mampu menghasilkan karya seni batik yang keindahannya bisa dinikmati hingga saat ini.

Di ruangan ini juga dipamerkan koleksi batik pagi-sore. Sejarah batik ini juga menimbulkan kekaguman tersendiri bagi saya. Betapa sebuah keterbatasan, di tangan seniman batik malah bisa menghasilkan karya yang indah sekaligus fungsional. Dari cerita yang pernah saya baca, pada tahun 1940-an kain mori sebagai bahan utama pembuatan kain batik jumlahnya langka di pasaran. Maka untuk mengakalinya, pembatik pada zaman itu membuat dua motif kain batik dalam sehelai kain. Jadi kain tersebut bisa dipakai di dua kesempatan berbeda. Serasa punya dua kain yang beda, padahal motifnya ada di selembar kain yang sama. Cerdas sekali.

Batik pagi-sore memiliki dua motif dalam sehelai kain

Di ruang display 2 ini juga banyak ditampilkan batik-batik kuno dari berbagai daerah di pesisir Pulau Jawa, seperti batik Cirebon, batik Lasem, dan batik Pekalongan sendiri. Di sini ada koleksi batik Cirebon yang motifnya berupa bentuk-bentuk geometris yang ternyata merupakan pengaruh dari kain patola India yang dibawa oleh para pedagang Gujarat (nama sebuah wilayah di India). Para pedagang Gujarat ini merupakan pemeluk agama Islam sehingga unsur dekoratif pada produk kainnya tidak menampilkan unsur makhluk hidup. Masyarakat pembatik Cirebon lalu mengadaptasi motif kain patola tersebut dan menuangkannya dalam motif kain batik.

Atas : batik buketan Pekalongan. Bawah : batik Cirebon yang terinsiprasi dari motif kain patola India.

Batik Cirebon yang motifnya berupa kaligrafi Arab,  merupakan pengaruh dari kedatangan pedagang Gujarat yang beragama Islam.

Batik Kumpeni motif Penjual Legen, dari Cirebon. Motifnya berupa gambar yang menceritakan kegiatan keseharian masyarakat di sana. 

Pada batik Lasem, budaya peranakan terlihat lebih dominan. Warna merah darah ayam merupakan warna khas batik Lasem, sementara dalam budaya Cina warna merah memiliki makna kegembiraan. Pada batik Pekalongan motif batiknya banyak mengadaptasi lingkungan sekitar masyarakat kala itu, seperti misalnya motif lung-lungan. Lung-lungan adalah tumbuhan merambat yang bentuk daunnya mirip dengan daun kangkung dan pada zaman dahulu banyak tumbuh di Pekalongan.

Batik Lasem motif Bang Biron. Terdiri dari dua warna dominan merah dan biru.

Batik Pekalongan motif Lung-lungan.

Persamaan di antara batik-batik pesisir tersebut adalah penggunaan warna-warna cerah dan motif-motif makhluk hidup yang digambarkan sama dengan aslinya, misalnya bentuk hewan ayam maka digambarkan serupa dengan ayam aslinya yang memiliki kepala, sayap, dll. Menurut penjelasan Mas Deni, ini menunjukkan sifat masyarakat pesisir yang terbuka serta mudah menerima budaya dan orang-orang baru. Berbeda dengan masyarakat pedalaman yang cenderung tertutup, terlihat dari motif-motif batiknya yang cenderung berupa simbol-simbol. Contohnya motif Babon Angrem dari Solo. Babon dalam bahasa Jawa artinya ayam betina dan angrem artinya mengerami telur. Motif tersebut menggambarkan ayam betina yang mengerami telurnya, namun gambarnya sendiri hanya berupa bentuk seperti sayap, tidak berbentuk hewan ayam secara utuh.

Motif Babon Angrem dari Solo

Seperti sudah saya sebutkan di atas, koleksi batik pedalaman dari Solo dan Jogja dipamerkan di ruang display 1. Warna yang digunakan pada batik Solo dan Jogja adalah warna-warna sogan yang cenderung gelap dan mengacu pada warna tanah seperti hitam, coklat tua, coklat muda, dan krem. Batik Solo dan Jogja memiliki persamaan motif, sedangkan sedikit perbedaannya adalah pada warnanya. Pada batik Jogja kerap dijumpai warna putih, sementara batik Solo tidak menggunakan warna putih melainkan krem untuk warna terang.

Batik Jogja dan Solo yang dipamerkan di ruang display 1. Warnanya didominasi oleh warna sogan.



Di ruang display 3 dipamerkan koleksi batik berwarna-warni. Yang menarik, kain-kain batik ini memiliki motif khas batik pedalaman namun warnanya tidak menggunakan warna sogan, melainkan warna-warna cerah seperti pada batik pesisir. Menurut Mas Deni, batik seperti ini adalah Batik Indonesia, yaitu batik yang idenya dari Presiden Soekarno dan diwujudkan oleh seorang seniman batik dari Solo bernama Go Tik Swan Hardjonagoro pada tahun 1955. Waktu itu Presiden Soekarno menginginkan adanya batik yang mencerminkan persatuan bangsa, batik yang mewakili Indonesia. Bukan batik Pekalongan, Solo, Yogya, dan lain-lain, melainkan Batik Indonesia. Maka terciptalah batik yang memadukan antara motif batik pedalaman dengan warna-warna cerah khas batik pesisir.

Batik Indonesia, merupakan gabungan antara motif batik pedalaman dengan warna-warna cerah khas batik peisisir

Selain di ruang-ruang display, dinding di teras museum juga digunakan untuk memajang cerita sejarah perbatikan di Pekalongan. Di dinding banyak dipajang foto-foto keluarga pembatik Pekalongan pada zaman dahulu, juga foto aktifitas pembatikan pada zaman dahulu. Selesai mengeksplorasi ketiga ruang display dan foto-foto di teras lorong museum, kami dipandu menuju tempat praktek membuat batik. Di sini kami diberi sehelai kain kecil seukuran saputangan lalu diajari cara menorehkan canting di atas kain oleh mbak instruktur. Sebelumnya saya sudah pernah praktek membuat batik di Imogiri, Jogja (ceritanya bisa dibaca di sini). Berbeda dengan yang pernah saya buat di Imogiri, di Museum Batik Pekalongan ini praktek membatiknya hanya sebatas menggambar di atas kain menggunakan malam cair dan canting.

Mas Deni, pemandu di Museum Batik Pekalongan, menerangkan foto-foto yang ada di dinding  lorong teras museum.

Teks : Kelarga H.Ridwan - Hj.Khadijah. Keluarga Pembatik Daerah Simbang Kulon, Pekalongan.

Teks : Oey Soe Tjoen & Kwee Nettie.  Keluarga Pembatik Tionghoa Daerah Kedungwuni, Pekalongan.

Teks : Keluarga Eliza Van Zuylen di Pekalongan ( Koleksi Keluarga Van Zuylen)

Jedi, benda yang digunakan untuk nglorod (proses pelepasan malam/lilin pada kain batik) dalam jumlah banyak. Jedi ini diletakkan di salah satu sudut di teras lorong museum.

Menurut saya layanan di Museum Batik Pekalongan ini terbilang bagus. Dengan tiket seharga Rp.5000 untuk dewasa, Rp.2000 untuk anak-anak/pelajar, Rp.10.000 untuk wisatawan mancanegara, kita sudah bisa mendapatkan layanan pemandu dan praktek membatik (kain yang sudah dibatik boleh dibawa pulang). Tadinya saya pikir layanan pemandu hanya didapatkan oleh pengunjung rombongan yang jumlahnya banyak, tapi ternyata tidak. Kami datang bertiga namun tetap dipandu oleh pemandu ketika memasuki ruang-ruang display di dalam museum. Namun tentu tidak setiap pegunjung perorangan yang datang langsung diberi pemandu. Saya perhatikan, setelah terkumpul sekitar 5-7 orang baru dipersilakan masuk museum dengan didampingi satu orang pemandu. Atau jika sudah ada rombongan yang duluan masuk, maka kita dipersilakan untuk bergabung dengan rombongan yang ada.


Si Bocah dan batik buatannya :D

Pamer dulu ah batik buatan saya :D

Sebenarnya di museum ini juga ada perpustakaannya, tapi saat kami ke sana tidak buka. Entah kapan perpustakaannya buka. Saya malah baru tahu ada perpustakaan saat sudah keluar museum, jadi tidak saya tanyakan ke petugas mengenai jam bukanya. Pintu masuk perpustakaannya berada di luar, tidak sama dengan pintu masuk museum. Lokasinya di sisi kanan gedung museum.

Perpustakaan di sisi kanan gedung museum.

Fasilitas lain yang disediakan museum ini adalah kursi roda, bisa dipinjam ke petugas bagian tiket di dekat pintu masuk. Menurut pak petugas, kursi roda ini sering dipinjam oleh pengunjung yang berusia sepuh. Lantai di museum ini memang wheelchair friendly alias mudah dilalui oleh kursi roda karena lantainya rata, tidak berundak-undak. Jadi tidak perlu khawatir ya kalau mau mengajak orang tua atau pengguna kursi roda ke museum ini ;)

Kursi rodanya bisa dipinjam ke bapak petugas tiket ini

Di dalam museum ini diperbolehkan untuk memotret, namun dilarang untuk menyentuh koleksi yang dipamerkan. Koleksi kain batik yang dipamerkan di sini kebanyakan ditaruh di lemari kaca, namun ada beberapa yang tidak. Saya sempat berpikir bagaimana cara merawat kain-kain batik kuno yang jumlahnya ribuan ini ya. Menurut Bu Vanda, tidak ada perawatan khusus untuk kain-kain batik koleksi museum ini, melainkan perawatan seperti umumnya pada kain batik. Yang terpenting adalah pengecekan sebelum kain-kain tersebut disimpan kembali setelah dipamerkan. Petugas museum akan melakukan pengecekan kain satu persatu untuk memastikan tidak ada noda, kotoran, maupun telur serangga yang menempel. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan di bunker. Maka penting sekali ya untuk mematuhi peraturan dilarang menyentuh koleksi museum ini karena bisa saja tangan kita meninggalkan noda atau kotoran di kain yang kita sentuh.


Di ketiga ruang display yang ada, saya perkirakan mungkin hanya sekitar puluhan atau seratusan kain saja yang dipajang. Padahal museum ini punya koleksi sebanyak 1255 helai kain. Jadi kalau mau melihat keseluruhan koleksinya kita harus sering-sering berkunjung ke sini. Hehehe. Kalau mau berkunjung ke sini, sediakan waktu yang cukup untuk mengeksplorasi keseluruhan ruang display yang ada, dan juga waktu untuk praktek membatik. Museum ini buka dari jam 08.00 WIB sampai jam 15.00 setiap harinya. Jadi tidak ada waktu libur kecuali waktu-waktu khusus yaitu ketika tahun baru, 17 Agustus, lebaran idul fitri & idul adha, serta tahun baru Islam.


Rencanakan waktu kunjungan agar tidak terburu-buru dan masih sempat mengeksplorasi daerah di sekitar museum. Di dekat museum ini ada pabrik limun jadul bernama Limun Oriental yang menurut saya sangat layak dikunjungi. Cerita tentang Limun Oriental dan jelajah kuliner Pekalongan yang kami lakukan bisa dibaca di sini ya. Selama di Pekalongan kami menginap di Hotel The Sidji, sebuah hotel heritage yang antik dan legendaris (untuk review-nya bisa dibaca di link ini). Dari hotel tempat kami menginap menuju Museum Batik Pekalongan, kami menggunakan taksi online. Puas sekali menghabiskan dua malam di Pekalongan. Kulinernya enak-enak dan banyak kuliner yang legendaris, dan yang utama sih karena di sini ada Museum Batik Pekalongan :D


- arry -




Museum Batik Pekalongan
Jl. Jatayu No 3, Panjang Wetan, Pekalongan
Telp : 0285 - 431698
Website : www.museumbatikpekalongan.info
Jam Buka : 08.00 - 15.00 WIB (Buka Setiap Hari)

You Might Also Like

2 komentar

  1. pernah ke pekalongan karena nyampenya sore hari jd hanya belanja batik di pusat batiknya belum ke museumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kalau ke Peklaongan lagi harus mampir museumnya mbak :D

      Hapus