The Sidji Pekalongan, Hotel Heritage Bernuansa Antik Nan Cantik


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di lobi hotel ini saya begitu terpesona dengan nuansa jadulnya. Bangunan rumah kuno di bagian depan Hotel The Sidji ini difungsikan sebagai lobi hotel dan ruangan-ruangan kamar di bagian dalam rumah difungsikan untuk ruang rapat. Ada tiga ruangan kamar di rumah ini, yang diberi nama sama dengan nama-nama motif batik Pekalongan, yaitu Encim, Hokokai, dan Zulyen. Setiap sudut hotel ini dihiasi furnitur dan hiasan-hiasan antik nan cantik. Sungguh memikat hati, terutama bagi para penggemar barang antik. Saya saja yang bukan pecinta barang antik, suka sekali memandangi dekorasi interior rumah ini.
Rumah milik Hoo Tong Koey & Tan Seng Nio

Teras depan

Recepcionist area

Menilik sejarahnya, rumah kuno ini adalah milik pasangan suami istri Hoo Tong Koey dan Tan Seng Nio yang dibangun pada tahun 1918. Pada masa itu Tong Koey dan Seng Nio merupakan orang terpandang di Pekalongan. Keduanya memiliki usaha bisnis zat pewarna batik dan akhirnya melebarkan sayap merambah bisnis pembuatan kain batik. Bisnis keluarga ini dikelola di bagian belakang rumah ini. Tong Koey yang memiliki minat tinggi terhadap musik tradisional, mendirikan kelompok gamelan dan sering melakukan pentas di kalangan peranakan (sebutan untuk keturunan imigran Tionghoa yang sejak akhir abad ke-15 telah menetap di kepulauan Nusantara). Untuk peran aktifnya ini Tong Koey diberi gelar "Liutenant der Chinezen" (Letnan Cina), sebuah gelar pangkat ke-3 tertinggi peranakan dalam hierarki kolonial Belanda.

Ruangan kamar yang difungsikan menjadi ruang rapat

Salah satu sudut lobi Hotel The Sidji

Kamar-kamar hotel berada di bagian belakang rumah kuno ini. Bangunan hotel merupakan bangunan baru, namun interiornya tetap diberi sentuhan jadul lewat penggunaan furnitur antik di berbagai sudut ruangan hotel. Unsur batik juga dimasukkan dalam aksen interior di hotel ini. Aneka kain gendongan motif Encim menghiasi dinding sepanjang lorong menuju kamar hotel. Motif kain serupa juga digunakan sebagai bagian dari seragam staf Nostalgia Restaurant, membuat penampilan mereka terlihat unik dan eye catching.

Lorong di depan kamar yang dindingnya diberi hiasan batik encim gendongan.



FASILITAS KAMAR DAN KAMAR MANDI

Fasilitas di dalam kamar cukup lengkap. Kamar yang kami tempati berisi tempat tidur berukuran king size, diberi sentuhan batik cantik berupa kain kecil panjang bermotif bunga di atas selimut. Karena kami bertiga sementara bantal yang tersedia cuma dua buah, saya meminta bantal tambahan pada staf bagian housekeeping. Tak perlu menunggu lama, bantal yang saya minta sudah diantar ke kamar kami.



Di dalam kamar disediakan teko pemanas air lengkap dengan teh, kopi, gula, dan dua botol air mineral. Namun tidak ada mini bar di sini. Tersedia fasilitas lemari pendingin, brankas, dan televisi layar datar. Di kamar mandi, toiletries yang tersedia cukup lengkap, dan senangnya di sini disediakan hair dryer.





NOSTALGIA RESTAURANT DAN CAFE PONTJOL

Nostalgia Restaurant berada di lantai paling bawah dan lokasinya di samping kolam renang. Interior ruangannya juga dihiasi furnitur dan hiasan antik. Meja-meja bulat yang bahan atasnya terbuat dari marmer memenuhi ruangan resto ini. Di salah satu pojok dinding resto terdapat sebuah lemari antik berisi peralatan makan yang antik juga. Sementara di salah satu dinding resto diberi hiasan piring-piring antik Cina yang indah.



Menu sarapan di hotel ini tidak begitu banyak jenisnya, namun lengkap pilihannya mulai dari bubur ayam, nasi beserta aneka lauknya, roti tawar dan aneka pilihan selai, dan ada juga potato wedges, sosis goreng, pasta, sampai sereal plus susunya tersedia di sini. Menu omelet juga ada dan bisa dipesan kapan saja. Kami sih sukanya makan omelet yang baru dibuat, jadi dipesan saat akan disantap supaya masih hangat. Omelet ini semacam menu sarapan wajib buat kami kalau sedang menginap di hotel. Buah potong dan salad sayuran juga tersedia meskipun dressing-nya hanya ada satu macam saja. Untuk dessert tersedia puding dan beberapa macam roti serta jajan pasar. Untuk minumannya selain kopi dan teh, juga tersedia pilihan air mineral, infused water, dan orange juice. Minuman tradisional juga tersedia di sini, yaitu jamu beras kencur dan kunyit asam.





Selain sarapan, di Nostalgia Restaurant kami sempat mencicipi menu makan malamnya. Atas rekomendasi staf resto, kami memesan menu Ayam Nostalgia, Tahu Nenek Moyang, dan Sop Buntut. Si Bocah memilih menu Beef Steak khusus untuk dirinya sendiri. Menurut dia steak-nya enak sekali sampai-sampai dia tidak bersedia berbagi dengan saya dan ayahnya. Idiiihhh.....pelit amat sih ya :))) Menu yang kami pesan malam itu memang sungguh enak. Ayam Nostalgia yang dimasak dengan bumbu asam manis terasa agak berbeda karena diberi potongan bunga kecombrang. Memberi sensasi rasa unik tersendiri. Sebagai orang Sunda, saya biasa menemukan bunga kecombrang sebagai pelengkap bumbu rujak. Namun ternyata bunga kecombrang dijadikan bumbu masakan lauk pelengkap nasi, rasanya enak dan cocok di lidah saya. Menu Tahu Nenek Moyang berisi potongan tahu sutera yang ditumis bersama jamur kancing yang diiris tipis dan ditambahkan rebusan bayam.  Menu tahu ini langsung jadi favorit saya. Rasanya pas di lidah, dan enak dimakan tanpa nasi. Sop Buntutnya berkuah bening dengan daging yang empuk sekali. Di dalamnya juga terdapat potongan aneka sayur dan cita rasanya segar. Saya dan si Paksu merasa puas dengan menu-menu rekomendasi staf resto malam itu.

Ayam Nostalgia

Tahu Nenek Moyang

Bagian depan resto yang menghadap ke kolam renang merupakan pintu kayu yang bisa dilipat seperti akordeon. Jadi saat makan malam pintu-pintunya dalam keadaan menutup dan ac di dalam ruangan dinyalakan. Sebaliknya, saat sarapan pintu akordeonnya dibuka sehingga bagian dalam resto menyatu dengan bagian luarnya sehingga terasa lebih luas. Namun yang tidak enak, bagian luar yang notabene adalah smoking area jadi seakan menyatu dengan non-smoking area di bagian dalam. Bau asap rokok seorang tamu hotel yang merokok di luar sempat tercium hidung saya. Agak mengganggu sih, karena saya agak sensitif dengan asap rokok.

Cafe Pontjol yang terletak di teras belakang bangunan rumah kuno ini merupakan tempat tepat untuk ngopi santai di sore hari. Sambil menunggu si Bocah berenang, kami memesan cappuccino dan  poffertjes untuk teman ngopi. Yang bikin si Paksu girang, harga-harga di cafe ini nggak bikin kantong kempes. Secangkir cappuccino di cafe ini harganya Rp.25.000, lebih murah daripada harga rata-rata di coffee shop di Jogja. Padahal biasanya harga hotel jauh lebih mahal kan. Sayangnya Cafe Pontjol ini jam operasionalnya hanya sampai pukul 22.00 setiap harinya. Padahal kalau malam Minggu kayaknya asyik juga nongkrong sampai malam di tempat ini.

Cafe Pontjol, menempati area teras belakang


KOLAM RENANG

Di hotel ini tersedia fasilitas kolam renang di lantai dasar. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup lah bikin si Bocah asyik cibang cibung :D Saya sempat mengunggah videonya di akun Instagram saya @arrywastuti. Air kolamnya tidak menggunakan kaporit, jadi tidak khawatir bikin kulit kering dan rambut bau. Si Bocah senang sekali berenang di kolam renang Hotel The Sidji, tapi mulutnya manyun ketika saya larang melompat ke dalam kolam. Pasalnya, pihak hotel menaruh beberapa meja kursi di pinggir kolam dan dekat sekali dengan bibir kolam. Kalau si Bocah melompat dari pinggir ke dalam kolam renang tentu akan menimbulkan cipratan air yang banyak dan saya khawatir akan membasahi baju tamu hotel yang sedang duduk di situ. Yah memang kalau buat anak-anak, hal seperti ini bisa mengurangi keasyikan mereka bermain air. Main air di kolam renang itu serunya kalau bisa sambil loncat-loncatan kan ;)

Letak meja kursi di sisi kiri kolam terlalu dekat dengan bibir kolam,
jadi si Bocah nggak bisa main loncat-loncatan di kolam renang deh :D


FASILITAS LAIN

Di hotel ini juga tersedia fasilitas ballroom, Cempaka Mulia Ballroom namanya. Selain kolam renang, di lantai dasar saya melihat ada ruangan gym dan juga tersedia fasilitas bike rental. Kayaknya asyik juga ya kalau keliling-keliling Pekalongan naik sepeda, pikir saya. Tapi buru-buru saya hapus pikiran itu setelah sadar betapa panasnya matahari di kota ini. Maklum, saya mah goweser anti panas matahari. Hahaha.

Ruang gym dan fasilitas bike rental

Di depan Hotel The Sidji sering terlihat ada beberapa tukang becak mangkal. Becaknya bertuliskan nama Hotel The Sidji. Sepertinya becak-becak ini bekerja sama dengan pihak hotel untuk mengantar para tamu hotel yang membutuhkan kendaraan untuk pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Di hari pertama kami datang, kami berniat ingin naik becak ini untuk pergi ke Soto Tauto Kunawi yang jaraknya sekitar 1 km dari Hotel The Sidji. Namun waktu itu tidak ada satupun tukang becak yang mangkal di depan hotel. Akhirnya kami pergi dengan berjalan kaki :D

Becak yang mangkal di depan hotel


Pengalaman kami menginap dua malam di hotel ini sungguh menyenangkan. Selain keunikan unsur heritage yang ditonjolkan hotel ini yang membuat mulut saya bergumam "Wow!" saat pertama kali menginjakkan kaki di area lobi, saya juga terkesan dengan keramahan para staf di hotel ini. Saat kami menginap di hotel, rasanya belum pernah ada staf hotel yang begitu ramah pada anak saya bahkan sampai menyapa dan bertanya pada si Bocah, "Adek sekolahnya kelas berapa?". Sebagai perusahaan yang bergerak di hospitality industry, mereka sadar betul bahwa pengalaman menginap yang menyenangkan yang dirasakan para tamu merupakan modal utama untuk dapat terus tumbuh dan bertahan di industri ini. Dengan segala keunggulan servisnya, tak aneh jika hotel ini menerima TripAdisor Certificate of Excellence dua tahun berturut-turut di tahun 2016 dan 2017 sebagai hotel dengan peringkat tertinggi di Pekalongan. Ah, andai jarak Jogja-Pekalongan sedekat Jogja-Solo, mau deh sering-sering pindah tidur ke The Sidji :D



- arry -



The Sidji
Jl. dr. Cipto Mangunkusumo No 66, 
Pekalongan, Jawa Tengah
Telp : 0285 - 4460077
Website : www.thesidji-pekalongan.com

You Might Also Like

0 komentar