Pagi Syahdu Di Telaga Sarangan

Sunrise terpantau dari jendela kamar kami di Sarangan

Pagi itu seusai menunaikan ibadah shalat subuh, saya mengajak PakSu menikmati sunrise dari Telaga Sarangan. Tapi si PakSu menolak dengan alasan kita tidak tahu kondisi di telaga seperti apa, dan apakah pemandangan matahari terbit bisa dinikmati dengan jelas dari sana. Ah iya, dipikir-pikir benar juga, waktu kami datang kemarin langit sudah gelap jadi tidak tahu bagaimana kondisi di sekitar. Akhirnya saya memilih menikmati sunrise dari balik jendela kamar penginapan kami yang untungnya memang menghadap ke arah timur. Selesai mentari terbit sempurna di ufuk timur, kami keluar dari penginapan dan memulai acara jalan pagi di sekitar Telaga Sarangan. Kami berdua saja karena si Bocah masih tidur. Tadi malam dia kesulitan mau tidur karena kedinginan, jadi paginya susah bangun deh :D

Pagi yang syahdu di Telaga Sarangan

Di sekeliling Telaga Sarangan dibuat area untuk berjalan kaki. Ada bagian yang sudah ber-conblock dan ada yang belum.

Pagi itu di sekitar telaga terlihat lengang. Hanya sedikit pengunjung yang mendatangi telaga sepagi itu. Namun para pedagang makanan terlihat sudah mulai bersiap-siap menggelar dagangannya. Saya dan si PakSu memutuskan untuk berjalan mengelilingi telaga dulu sebelum sarapan. PakSu sudah mengincar menu sate kelinci yang banyak ditawarkan di sana. Bagusnya, semua harga sate dibuat seragam. Ada paguyuban tukang sate yang mengatur penetapan harga. Dari mulai pedagang sate pikulan sampai yang membuka warung, harganya dipatok sama. Cukup menentramkan hati pembeli ya kalau seperti ini, mengingat cukup banyak berita miring tentang penjual makanan yang "menggetok" harga di area-area wisata.

Harga sate di mana-mana dipatok sama

Berjalan pagi mengelilingi telaga di pagi hari ternyata sangat menyenangkan. Karena masih pagi, masih sepi pengunjung, jadi saya bisa puas mengabadikan keindahan Telaga Sarangan. Di beberapa bagian sisi telaga disediakan kursi taman, jadi lebih asik menikmati pemandangan sambil duduk-duduk. Angin sepoi-sepoi membuat sedikit riak di permukaan telaga, sementara kabut tipis terlihat bergerak di antara pepohonan, perlahan menghilang seiring datangnya cahaya matahari. Jangan lupa memakai jaket jika berniat jalan-jalan pagi di sini. Untuk penduduk Jogja yang terbiasa dengan cuaca panas, saya sampai perlu merapatkan risleting jaket saat berada di sini. Berada di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1287 mdpl, tidak aneh ya kalau udara paginya terasa begitu dingin.


Indahnya pemandangan di sekitar Telaga Sarangan

Indahnya pemandangan di sekitar Telaga Sarangan (2)

"Pemandangan Eropa Ala-ala", kata si PakSu :D
Di beberapa bagian sisi telaga, ada kursi-kursi taman begini.
Asik sekali menikmati suasana pagi Telaga Sarangan sambil duduk-duduk di sini

Di tengah jalan kami menemukan petunjuk arah menuju objek wisata air terjun Tirtosari. Saya tengok Mbah Google, jaraknya 2,5 km. Cukup jauh juga, pantas di dekat situ ada jasa ojek yang siap mengantar ke lokasi. Tapi katanya ojek pun tidak sampai tepat di lokasi air terjun, masih harus dikombinasi dengan jalan kaki. Sempat terpikir pingin mencoba ke sana, tapi inget si Bocah yang tadi ditinggal masih tidur di kamar, kasihan juga kalau dia bangun dan kami lama datangnya. Ditambah pula lapar karena kami belum sarapan dan PakSu teringat terus sate kelinci :)))) Jadi kunjungan ke air terjun kami skip dulu deh.

Jalan menuju air terjun Tirtosari

Kami pun melanjutkan perjalanan. Di area yang banyak pepohonan, kami bertemu dengan beberapa monyet liar. Mereka nampaknya sudah terbiasa dengan kehadiran banyak orang di sekitar area tersebut dan terlihat tidak terganggu. Mereka juga tidak mengganggu para pengunjung. Saya jadi ingat monyet-monyet yang kami temui ketika kami berkunjung ke Batu Caves, Kuala Lumpur. Waktu itu kantong plastik yang ada di kantong luar ransel si Bocah diambil oleh si monyet karena dikira berisi makanan. Padahal itu kantong plastik kosong untuk wadah sampah. Hehe. Monyet-monyet di Telaga Sarangan ini nampaknya tidak seagresif itu. Gerak-gerik mereka terlihat kalem, jadi tidak menakutkan buat saya :D

Gaya monyetnya kalem bin cool :D

Tak terasa satu putaran penuh kami melangkah mengelilingi telaga. Cukup membuat badan hangat di tengah suhu yang konon selalu berkisar antara 15-20 derajat celcius setiap harinya. Di pertigaan tempat kami memulai perjalanan memutari telaga tadi, sekarang sudah mulai terlihat banyak orang. Kami langsung menuju penginapan untuk menjemput si Bocah. Perkiraan saya sih dia sudah bangun. Benar saja, dia sudah cengar-cengir di depan kamar saat kami datang. Tanpa banyak membuang waktu, dan tanpa perlu mandi dulu (ishhh.....siapa juga yang sanggup mandi di suhu dingin begitu rupa. Kami yang terbiasa dengan hawa panas Jogja tentu tak sanggup. Hahaha.), kami bertiga bergegas menuju area pinggir telaga. Perut kami kan sudah keroncongan dari tadi, ditambah lagi udara dingin yang memang biasanya bikin perut cepat lapar kan :D Sate kelinci, kami dataaaaang!

Saat jalan-jalan tadi pagi, saya dan PakSu sudah ngincer warung sate mana yang akan kami pilih. Pokoknya yang ada tempat duduknya di pinggir telaga dan nggak panas. Kami duduk di area lesehan yang menghadap ke telaga. Tak lama pesanan sate kami datang. Sebelumnya, PakSu membeli air jeruk peras dari pedagang di dekat situ. Sungguh asik menikmati sate kelinci dan air jeruk dengan bonus pemandangan alam nan indah seperti ini. Saya suka dengan rasa satenya dan dagingnya juga empuk. Sayang lontongnya terlalu lembek menurut saya. Air jeruk perasnya segar sekali. Minuman seharga Rp.10.000 ini murni dibuat dari perasan jeruk saja tanpa tambahan air atau es.

Sate kelinci plus lontong, Rp.18.000.

Air jeruk murni, Rp.10.000.

Sambil makan kami memperhatikan speedboat yang lalu lalang membawa pengunjung berputar mengelilingi telaga. Tarif naik speedboat ini juga dipatok sama, Rp.60.000 per-keliling dan Rp.150.000 untuk 3 keliling. Berkeliling telaga menggunakan speedboat terlihat menyenangkan. Sesekali terdengar teriakan seru mereka saat supir speedboat memacu kecepatan, membuat si Bocah penasaran dan ingin naik juga. Selesai makan, kami pun naik wahana satu ini. Ternyata memang seru sekali naik speedboat, apalagi saat pak supirnya mulai ngebut. Wah si Bocah sampai berteriak-teriak kegirangan. Kalau saya plus deg-degan soalnya kami tidak diberi life jacket. Ada perasaan takut juga, gimana kalau speedboat-nya tiba-tiba terbalik. Heuuuu......syeremmm. Sebelum naik saya sempat bertanya apakah kami diberi life jacket, dan dijawab, "Nggak usah mbak, ini aman kok." :D Yowis, bismillah aja deh ya, semoga nggak ada apa-apa. Dannnnn.......ternyata 1 keliling itu nggak cukup buat si Bocah. Walhasil kami naik speedboat 3 keliling dong. Yes, alhamdulillah kami aman selamat sampai di tempat :D

Difotoin sama si bapak pemilik speedboat

Tarif sewa resmi. Nggak perlu takut dibohongin dikasih harga mahal.

Biar udah tua, si bapak tetep bisa ngebut nyetir speedboat-nya lho.
Tapi saya lupa euy nanya namanya si bapak :D

Turun dari speedboat, saya memperhatikan sekeliling, ada wahana apalagi ya yang sekiranya diminati si Bocah. Di dekat situ ada pangkalan penyewaan kuda. Si Bocah menggeleng waktu saya tawari naik kuda. Pun ketika saya tawari naik sepeda listrik. Akhirnya kami jalan-jalan saja di pinggiran telaga. Sebelum kembali ke penginapan, saya membeli kaos untuk kenang-kenangan. Di situ banyak kios yang menjual cinderamata. Aneka produk yang dijual, namun kebanyakan kios menjual kaos bertuliskan 'Telaga Sarangan'.

Ada penyewaan kuda juga. Tapi si Bocah nggak mau naik kuda.

Sungguh menyenangkan berlibur bersama keluarga di Telaga Sarangan. Selain pemandangannya yang indah, saya juga senang karena ada wahana yang bisa dijajal si Bocah sehingga dia tidak bosan. Untuk alternatif tempat liburan keluarga, Telaga Sarangan ini oke banget untuk dikunjungi.


- arry -




You Might Also Like

0 komentar