Petualangan Kuliner Di Kuala Lumpur



Saat kami ke Kuala Lumpur bulan Mei 2017 lalu, kami tidak melewatkan kesempatan untuk icip-icip kuliner setempat. Sebelum berangkat tentu saja kami sudah banyak browsing  untuk mencari informasinya. Dari hasil browsing kami mendapat info bahwa Malaysia terdiri dari tiga etnis besar : Melayu, Cina, dan India. Beruntungnya kami bisa mencicipi makanan dari ketiga etnis tersebut dalam perjalanan traveling kami kali ini. Mencari makanan halal di Kuala Lumpur tidak sulit karena mayoritas penduduknya muslim.


ABC Bistro Cafe
Lokasinya di lantai dasar Easy Hotel tempat kami menginap. Jadi setiap tamu yang menginap di Easy Hotel akan dapat kupon breakfast yang bisa digunakan di ABC Bistro Cafe ini. Untuk tamu hotel sudah ditentukan paket breakfast yang bisa dipilih. Kami memilih  makanan khasnya saja, makanan melayu, yaitu roti canai dan nasi lemak. Untuk minuman hanya bisa pilih teh tarik atau kopi tarik. Saya coba dua-duanya dan enak semua rasanya.


Nasi Lemak di ABC Bistro Cafe

Roti canai-nya juga enak :D

Cangkir yang khas digunakan untuk menyajikan teh tarik/kopi tarik hangat. Di Oldtown Cafe waktu saya pesan menu yang sama juga penyajiannya di cangkir seperti ini. Cangkir ini terbuat dari keramik yang cukup tebal. 

Saya perhatikan tempat ini cukup ramai dikunjungi orang-orang selain tamu hotel. Di bagian depan hotel tertera tulisan Original Nasi Kandar. Menunya seperti nasi rames kalau di Indonesia.

Suasana di dalam ABC Bistro Cafe

Bagian depan resto

Lokasi ABC Bistro Cafe/Easy Hotel ini persis di samping jembatan penyeberangan KL Sentral ke arah stasiun monorail. Stasiun monorail-nya persis di samping Easy Hotel.


Restoran Visalatchi's
Lokasinya di Brickfields, jalan kaki sekitar 5-10 menit dari KL Sentral. Resto ini menyediakan makanan khas India Selatan. Kami memesan set menu nasi biryani. Rasa kari India itu ternyata nggak terlalu pedas ya. Butiran nasinya panjang-panjang, yang menurut karyawan resto yang melayani kami, berasnya diimpor langsung dari India. Untuk lauk dagingnya kita bisa milih mau daging ayam atau kambing. Penyajiannya cukup unik, di atas sehelai daun pisang. Jika sudah selesai, daun pisangnya dilipat, ini sebagai tanda bahwa kita sudah selesai makan.


Tampak depan resto

Set nasi biryani di resto ini

Sayur pendamping, termasuk dalam set nasi biryani

Fish puttu, ini menu tambahan. Harus minta ke pelayannya jika menginginkan tambahan menu ini.

Daun pisang yang dilipat adalah tanda bahwa kita sudah selesai makan

Saat kami datang sudah lewat jam makan siang. Suasana resto terlihat agak sepi. Di dinding resto terpasang foto-foto suasana makan bersama di India. Orang-orang tersebut duduk di lantai dan juga menggunakan daun pisang untuk alas makannya.


Suasana di dalam resto

Foto di dinding yang menggambarkan suasana makan bersama di India

Saya lupa di resto ini ada daftar harga atau tidak. Sekedar gambaran, total yang kami bayarkan saat makan di sini adalah RM 48 untuk dua set nasi biryani, menu tambahan fish puttu, nasi putih plus ayam goreng untuk anak saya, dan tiga gelas es teh tarik.


Aneka makanan yang bisa dipilih

Yang agak ajaib di resto India ini adalah gestural pelayannya. Pas saya tanya apakah makanannya pedas, dia geleng-geleng. Trus saya tanya apakah makanannya tidak pedas (untuk memastikan), eh dia geleng-geleng juga. Pedas atau nggak pedas sama aja dia tetep geleng-geleng. Jadi ini makanan pedas apa nggak sih ya, nggak jelas! Hahaha.


Foodcourt di Central Market
Central Market adalah salahsatu pusat oleh-oleh di Kuala Lumpur. Kalau capek hunting oleh-oleh, bisa naik ke lantai 2. Di situ ada foodcourt yang menjual aneka makanan dan minuman khas Malaysia. Waktu kami ke sana perut masih kenyang, jadi kami hanya pesan minuman. Udara cukup panas di luar sehingga membuat kami haus. Si Bocah tidak mau pesan apa-apa karena merasa perutnya benar-benar full :D 



Suasana foodcourt di lantai 2 Central Market

Saya pesan es tebu dan si Ayah pesan es soya cincau. Keduanya sama-sama enak dan bikin segar. Saya tertarik banget pingin coba ais kachang, tapi urung mengingat tenggorokan saya agak sensitif dengan minuman super dingin. 


Es tebu dan es soya cincau yang segar. Pesannya di Kopitiam di seberang itu.

Cara ke Central Market dari KL Sentral adalah dengan naik LRT Kelana Jaya, turun di stasiun Pasar Seni. Karena kami menginap di dekat KL Sentral, maka transportasi menuju tempat-tempat kuliner yang saya ceritakan dalam artikel ini start-nya dari KL Sentral semua ya.


Simple Life 
Resto vegetarian ini terletak di Signature Foodcourt, lantai 2 mall Suria KLCC. Menu yang saya pesan adalah nasi lemak, harganya RM 14.75 (termasuk pajak). Dalam set menu ini ada semangkuk kecil sayur, saya tidak tahu namanya, tapi rasanya segar sekali. Ada sedikit rasa asam yang membuat sayur ini terasa segar.


Nasi lemak ala Simple Life

Sayur ini rasanya segar banget

Jika makan di Signature Foodcourt, pilih deretan kursi yang dekat dinding kaca. Pemandangannya ke arah air mancur dan taman di depan mall. Makanya spot ini jadi favorit dan bakalan cepat penuh kalau pas jam makan. Saat malam hari bisa lihat air mancur menari warna-warni dari sini tanpa harus turun ke area air mancur di depan mall.


Spot favorit di Signature Foodcourt. Bisa lihat air mancur dan taman di bawah sana.

Untuk menuju mall Suria KLCC dari KL Sentral, naiklah LRT Kelana Jaya lalu turun di stasiun KLCC. Stasiunnya langsung terhubung dengan mall-nya.


Nasi Ayam Hainan Chee Meng
Lokasinya di daerah Bukit Bintang. Dari KL Sentral naik monorail dan turun di stasiun Bukit Bintang. Letaknya di pinggir jalan besar sehingga cukup mudah menemukan resto ini. 


Tampak depan resto dari seberang jalan
Awalnya sempat ragu apakah chinese restaurant ini halal atau tidak, tapi pas sampai di depan resto saya melihat logo halal besar di samping nama restonya. Kami pun lega dan tidak khawatir lagi mengenai kehalalan makanan di resto ini. 

Aneka makanan tersedia di resto ini, namun yang paling khas ya nasi ayamnya itu. Harga satu set nasi ayam paha adalah RM 11. Rasanya enak, dagingnya lembut dan bumbunya terasa sampai ke dalam meskipun daging ayamnya cukup tebal.


Set nasi ayam hainan terdiri dari ayam, nasi putih, dan kuah bening. Oseng tauge di sisi kanan itu menu tambahan di luar set menu ayam.

Daftar harga (1)
Daftar harga (2)

Suasana resto cukup ramai karena waktu kami ke sana pas jam makan malam sekitar pukul 19.00, dan kebetulan malam minggu pula. Meskipun ramai tapi pelayanan di resto ini terbilang cukup cepat. Pencatatan order pun cukup canggih, pelayanan menuliskan order makanan kami melalui aplikasi di tablet. Saat melihat gambar logo resto ini di dinding, saya baru tahu kalau usia resto ini sudah berdiri sejak tahun 1965. Wah, sudah lumayan tua juga ya ternyata.


Suasana di dalam resto yang cukup ramai karena pas di jam makan malam


Bapak ini sepertinya adalah pemilik restonya. Karyawan yang lain memakai seragam warna kuning, sementara bapak ini tidak memakai seragam. Saya tidak sempat mengobrol karena kondisi resto yang sedang ramai. Khawatir saya akan mengganggu jika mengajak beliau mengobrol.


Berdiri sejak 1965. Resto ini sudah cukup tua juga ya.


Nando's
Resto yang satu ini memang bukan makanan khas Malaysia. Resto yang menu utamanya ayam bakar ala Portugis ini ternyata buka pertama kali di Afrika Selatan. Konon dulunya di Indonesia juga ada restonya, tapi sekarang sudah tutup. Yang jelas di Jogja tidak ada, jadi kami tertarik untuk mencoba :D 

Berhubung jatah si Ayah makan ayam adalah 2 potong (kalau cuma 1 potong nggak nendang katanya. Hahaha.), jadi kami pesan menu platter, satu set menu besar yang bisa dimakan ramai-ramai untuk 3-4 orang. Level pedasnya bisa milih, mulai dari yang plain sampai extra hot. Dan saya pun jadi teringat menu ayam geprek di banyak warung di Jogja yang bisa milih level pedasnya berdasarkan jumlah cabai. Ah memang Jogja itu ngangenin ya, kemana pun kita pergi tetap selalu Jogja yang diingat. Hihihi.


Peri-Peri Chicken. Ayam bakar ala Portugis.

Potato wedges, bagian dari menu platter yang kami pesan.

Menu platter yang kami pesan terdiri dari 4 potong ayam dan 2 porsi potato wedges, harganya RM 59. Rasanya enak dan porsinya besar jadi cukup mengenyangkan. Yang agak aneh di lidah adalah rasa saus peri-peri yang disediakan untuk dicocol saat makan ayamnya. Ada dua macam saus peri-peri, extra hot dan garlic. Rasa asam yang kuat di sausnya itu terasa agak aneh di lidah. Yang extra hot masih mendingan sih rasanya dibanding yang garlic. Untuk info halalnya, menurut website-nya Nando's makanan yang mereka sajikan sudah bersertifikat halal.


Saus Peri-Peri yang menurut kami rasanya aneh karena dominan asam. Yang extra hot masih lebih mending deh dibanding yang garlic. Hehe.

Resto Nando's yang kami kunjungi ini letaknya di bandara KLIA2. Yap, kami makan di sini saat hendak pulang ke Jogja. Karena kami ambil penerbangan sore, maka saat jam makan siang kami sudah standby di bandara. Yah daripada ketinggalan pesawat, kami memilih menunggu di bandara saja. Dari beberapa info yang saya baca, untuk penerbangan internasional di KLIA2 sediakan waktu minimal 3.5 jam dari Kuala Lumpur. Bandara KLIA2 ini letaknya di Sepang, membutuhkan waktu sekitar 50-60 menit dari KL Sentral dengan menggunakan bus, jika perjalanan lancar tanpa macet. Perhitungkan juga waktu antrian di imigrasi yang seringkali tidak terduga panjang antriannya.


Karipap
Ini adalah snack khas Malaysia. Bentuknya seperti kue pastel kalau di Indonesia. Karipap ini berisi potongan kentang dan wortel yang diiris kecil-kecil dan diberi bumbu kari. Harganya 50 sen perbuah. Ibu penjual karipap ini berjualan pagi hari di depan deretan toko-toko di samping Easy Hotel tempat kami menginap.


Karipap seharga 50 sen 
Ibu penjual karipap ini menggelar dagangannya di pagi hari. Di siang hari lapaknya tutup.


Roti Krim Massimo dan Gardenia
Kalau yang ini memang bukan makanan khas Malaysia. Saya cuma mau bilang kalau roti krim ini enak rasanya. Saya beli di minimarket KK di samping Easy Hotel. Waktu itu saya beli untuk bekal di bus menuju KLIA2. Nyesel belinya cuma 3 buah, dan yang 2 habis dimakan si Bocah dong. Huhuhu. 


Yang merk Massimo (kiri) menurut saya lebih enak dibanding yang di sebelahnya

Jangan khawatir dengan kehalalan roti-roti ini. Di bungkusnya tertera logo halal dari majelis ulama setempat.


- arry -


Ingin tahu cerita ngebolang kami di Kuala Lumpur? Silakan intip di link berikut ini ya, siapa tahu infonya berguna :

Hari Kedua Ngebolang di Kuala Lumpur
Hari Pertama Ngebolang di Kuala Lumpur

Review Easy Hotel, Kuala Lumpur
Hari Ketiga Ngebolang di Kuala Lumpur










You Might Also Like

0 komentar