Menjejakkan Kaki Di Istana Kepresidenan Yogyakarta

Gedung Agung
Tiap kali melewati ujung selatan Jl. Malioboro saya selalu penasaran dengan gedung bercat putih yang nampak gagah dari kejauhan ini. Yang saya tahu, gedung tersebut bernama Gedung Agung, salah satu istana kepresidenan yang ada di Indonesia. Yang saya tahu, area kompleks bangunan gedung tersebut selalu dijaga sejumlah penjaga dan terkadang mereka berpakaian militer lengkap dengan senapan laras panjang. Namun yang saya tidak tahu, ternyata gedung ini boleh dikunjungi oleh masyarakat umum secara individu. Selama ini saya mengira bahwa kunjungan ke gedung ini hanya diijinkan untuk rombongan dengan disertai surat atau undangan khusus. Maka ketika komunitas Omah Parenting mengadakan kegiatan untuk anak-anak berupa kunjungan ke Gedung Agung, dengan semangat 45 saya mendaftar untuk dua orang, saya dan si Bocah. Waktu ditawari ikut kegiatan ini, si Bocah sih angguk-angguk saja. Dia nggak tahu, padahal mamaknya yang punya modus menyusup di rombongan anak-anak biar bisa masuk ke Gedung Agung. Hahaha.

Karena acaranya dilaksanakan di musim liburan dan saya tidak yakin akan mendapat parkir di Malioboro, saya memutuskan pergi ke Gedung Agung menggunakan taksi daring. Sampai di Gedung Agung, kami masuk melalui pintu gerbang utara. Di sana ternyata sudah ada beberapa mobil yang diparkir. Area parkir motor juga tersedia. Tapi saya tidak tahu apakah kendaraan boleh parkir setiap hari di sini, atau hanya khusus di hari libur saja.

Tata Cara Dan Peraturan Kunjungan Ke Gedung Agung

Saat masuk, seorang petugas mengumumkan bahwa ransel dan segala barang bawaan harus disimpan di dalam loker yang tersedia. Yang boleh dibawa ke dalam hanya dompet, ponsel, dan barang berharga lainnya yang ukurannya tidak besar. Benda-benda tersebut boleh dimasukkan ke dalam tas yang ukurannya tidak besar (misalnya tas selempang). Sebelum masuk ke area loker kita melewati alat pemeriksaan seperti di bandara. Namun sepertinya alat ini hanya dinyalakan jika ada kunjungan resmi kenegaraan saja, karena pada waktu kami ke sana sama sekali tidak diperiksa melewati alat tersebut.

Loker tempat penitipan tas, helm, dan jaket.

Beberapa minggu setelah kunjungan bersama komunitas Omah Parenting ini, saya berkesempatan mengunjungi lagi Gedung Agung bersama komunitas lainnya, yaitu komunitas Kandang Kebo, sebuah komunitas yang concern dengan pelestarian budaya dan bangunan-bangunan tua. Saat berkunjung dengan komunitas Kandang Kebo, alat detektor ini dinyalakan dan semua barang-barang pengunjung diwajibkan melewati alat ini. Prosedur selanjutnya sama, kami diminta menaruh barang bawaan kami di loker. Hanya barang berharga saja yang diperbolehkan dibawa masuk ke dalam.

Alat detektor

Dari bapak petugas saya mendapat informasi kalau Gedung Agung ini boleh dikunjungi masyarakat umum, baik individu maupun rombongan, dan tidak dikenakan biaya masuk alias gratis. Syaratnya hanya harus berpakaian rapi dan mengenakan sepatu. Pengunjung laki-laki disarankan mengenakan kemeja dan yang perempuan jika memakai rok harus selutut atau di bawah lutut. Rok dan celana pendek tidak diperkenankan. Jadi kalau kalian datang dengan pakaian yang tidak sesuai dengan ketentuan, ya siap-siap saja tidak akan diizinkan masuk oleh petugas. Gedung Agung dibuka untuk pengunjung setiap hari antara pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00 WIB. Untuk pengunjung rombongan, diharapkan mengajukan surat permohonan kunjungan dari beberapa hari sebelumnya, sementara pengunjung individu bisa langsung datang ke Gedung Agung dengan mengenakan pakaian yang sesuai ketentuan di atas.

Dengan dipandu seorang petugas, rombongan kami dipersilakan masuk ke dalam Gedung Agung. Saat di teras depan Gedung Agung sebelum memasuki area dalam gedung, bapak petugas menginformasikan bahwa selama di dalam gedung dilarang memotret dengan perangkat kamera apapun, termasuk dengan kamera ponsel. Kita hanya diijinkan memotret di luar area gedung, seperti misalnya di halaman, di teras, pokoknya bagian dalam gedung yang tidak boleh dipotret sama sekali.

Sebelum masuk ke bagian dalam Gedung Agung, bapak pemandu menjelaskan bahwa kami dilarang memotret selama berada di dalam Gedung.

Sejarah Gedung Agung Yogyakarta

Gedung Agung merupakan salah satu istana kepresidenan Indonesia, dan lokasinya di Yogyakarta. Kedudukannya sama dengan istana-istana kepresidenan lainnya yang ada di Indonesia, yaitu di Jakarta, Bogor, Cipanas (Kabupaten Cianjur, Jawa Barat), dan Tampaksiring (Bali). Gedung Agung menjadi kediaman resmi presiden dan wakil presiden RI di Yogyakarta. Menempati area seluas 4,2 hektar, Gedung Agung merupakan istana kepresidenan yang paling kecil dibanding istana kepresidenan Indonesia lainnya. Namun, Gedung Agung memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia terutama di era revolusi pada 1946-1949, yaitu saat ibukota negara RI pindah ke Yogyakarta. Kala itu pusat pemerintahan RI dijalankan di Gedung Agung. Gedung Agung juga menjadi tempat kediaman presiden Soekarno, sementara wakil presiden Mohammad Hatta bertempat tinggal dan berkantor di sebuah bangunan di samping Gedung Agung yang sekarang menjadi kantor Korem 072/Pamungkas. Menurut cerita pemandu kami, presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, dilahirkan di salah satu kamar di Gedung Agung ini.

Pada awalnya, Gedung Agung adalah sebuah bangunan yang berdiri pada tahun 1755 di sebuah pekarangan luas dan berfungsi sebagai Kantor Karesidenan Yogyakarta pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada Mei 1824 oleh Residen Belanda ke-18, Anthonie Hendriks Smissaert, dengan dibantu arsitek A. Payen, gedung ini dibangun menjadi lebih megah agar pamornya tak kalah dengan Keraton Yogyakarta. Semasa Perang Diponegoro 1825-1830 pembangunan gedung ini sempat dihentikan, lalu dilanjutkan kembali pasca Perang Diponegoro dan pembangunannya selesai pada tahun 1832. Pada Juni 1867 gedung tersebut rusak berat sebagai akibat gempa bumi besar yang terjadi di Yogyakarta. Kemudian gedung tersebut direnovasi dan selesai pada tahun 1869.

Pada Desember 1927 seiring dengan peningkatan status administratif wilayah Yogyakarta dari Karesidenan menjadi Provinsi, gedung ini resmi menjadi kediaman Gubernur Belanda di Yogyakarta hingga masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi kediaman penguasa Jepang (Tyookan Kantai) di Yogyakarta. Pada 21 September 1945 para pejuang RI berhasil menguasai gedung Tyookan Kantai. Sejak 6 Januari 1946 gedung ini menjadi kediaman resmi presiden RI ketika Yogyakarta menjadi ibukota RI. Setelah Presiden dan Wakil Presiden RI kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, gedung ini digunakan untuk menerima tamu-tamu kenegaraan yang sedang berkunjung ke Yogyakarta, hingga akhirnya gedung ini disebut Gedung Agung, yaitu gedung tempat menyambut tamu-tamu agung.

Bagian-Bagian Bangunan Kompleks Gedung Agung

Berdiri di atas lahan seluas 4.2 hektar, istana kepresidenan di Yogyakarta ini terdiri dari satu gedung utama dan enam wisma, yakni Gedung Agung, Wisma Negara, Wisma Indraprasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, Wisma Saptapratala, dan Wisma Jodipati. Di samping itu, sejak 20 September 1995 kompleks Seni Sono yang berlokasi di bagian selatan Gedung Agung menjadi bagian dari istana kepresidenan ini.

Bagian depan Wisma Negara
Saat tur di dalam Gedung Agung, pemandu kami menerangkan bagian-bagian gedung ini. Di paling depan ada ruangan yang diberi nama Ruang Garuda, merupakan ruangan utama tempat penyelenggaraan acara-acara kenegaraan. Pada Juni 1947 di ruang inilah Jenderal Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar TNI dan sebulan berselang setelahnya, yaitu pada Juli 1947, beliau dilantik menjadi pucuk pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia.

Di sayap kanan gedung utama terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Soedirman. Adapun penamaan tersebut ditujukan untuk menghormati perjuangan Jenderal Soedirman yang memimpin perang gerilya melawan Belanda. Ruangan ini menjadi saksi ketika Jenderal Soedirman berpamitan pada Presiden Soekarno untuk pergi dari kota Yogyakarta dan melaksanakan perang gerilya. Saat ini, Ruang Soedirman digunakan Presiden RI untuk melakukan pertemuan dan pembicaraan resmi dengan para kepala negara/kepala pemerintahan yang berkunjung ke Yogyakarta. Di sayap kiri gedung utama terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Diponegoro, dalam rangka menghormati dan mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Ruang Diponegoro juga difungsikan sebagai ruang pertemuan resmi kenegaraan.

Tepat di belakang Ruang Garuda terdapat Ruang Jamuan Makan VVIP. Di ruang makan ini diletakkan tiga buah meja bulat besar beserta kursi-kursinya. Meja bulat di bagian tengah adalah tempat presiden bersama tamu negara setingkat kepala negara menikmati santapan, sementara meja bulat di kanan dan kirinya dipergunakan untuk keluarga presiden dan keluarga tamu negara beserta jajaran menteri. Sedangkan tamu-tamu undangan lainnya menempati area di bagian depan meja-meja bulat ini.

Menurut info dari bapak pemandu, semua makanan yang akan disajikan dalam jamuan makan kenegaraan di ruangan ini harus melewati serangkaian pengujian yang dilakukan oleh BPOM RI. Makanan yang disajikan harus bebas dari bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh. Terkadang ada permintaan khusus untuk menghadirkan makanan khas Yogyakarta saat jamuan makan. Pernah ada tukang bakmi Jawa yang diminta memasak di Gedung Agung. Semua peralatan dan bahan-bahan masakan yang dibawanya tentu tak luput dari pemeriksaan staf BPOM RI.

Di belakang ruang makan VVIP terdapat ruang kesenian berukuran luas. Di ruangan ini terdapat satu set perangkat wayang kulit lengkap dengan alat musik gamelan. Di sini kerap digelar pertunjukan wayang dan tarian untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan.

Kamar tidur presiden beserta keluarganya terdapat di sisi selatan gedung utama, sementara di sisi utara terdapat kamar-kamar yang diperuntukkan bagi wakil presiden beserta keluarga dan bagi tamu-tamu negara yang berkunjung.

Enam buah wisma yang berada di kompleks Gedung Agung diperuntukkan sebagai fasilitas akomodasi bagi pejabat negara maupun tamu-tamu dari negara sahabat. Rombongan staf presiden, ajudan, dan dokter pribadi, juga menempati wisma-wisma ini saat menginap di istana kepresidenan Yogyakarta. Namun sejak banyak dibangun hotel di Yogyakarta di awal tahun 2000an, tamu-tamu negara mulai jarang yang menginap di Gedung Agung.

Keluar dari gedung utama, rombongan kami diajak masuk ke sebuah bangunan yang lokasinya di bagian selatan gedung utama. Bangunan ini dulunya adalah Gedung Seni Sono dan sekarang menjadi Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta. Di dalam museum bertema "nasionalisme" ini kita bisa melihat koleksi benda-benda seni bernilai tinggi seperti lukisan, keramik, patung, dan benda-benda antik lainnya. Di tempat ini banyak dipajang lukisan koleksi Soekarno yang merupakan karya para pelukis maestro Indonesia, seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, dan Affandi.

Tampak depan bangunan Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta

Di lantai 1 museum ini kita bisa melihat lukisan potret presiden-presiden Indonesia beserta prestasi yang mereka buat semasa menjabat. Di sini pula kita bisa melihat aneka barang antik dari berbagai penjuru dunia yang merupakan cindera mata dari negara-negara sahabat. Cindera mata tersebut ada yang diberikan ketika perwakilan negara sahabat mengunjungi Indonesia maupun sebaliknya, saat presiden RI berkunjung ke negara-negara sahabat. Di lantai inilah lukisan-lukisan karya para pelukis maestro Indonesia dipamerkan.

Di dinding lantai 2 dipajang foto-foto para wakil presiden RI beserta kegiatan mereka saat menjabat sebagai wapres. Di sini juga dipajang aneka lukisan koleksi Soekarno dan berbagai barang antik. Koleksi paling menarik bagi saya di tempat ini adalah satu set permainan catur yang terbuat dari batu giok. Bidak-bidaknya terbuat dari batu giok berwarna putih dan hijau. Indah sekali. Sayangnya koleksi yang ini disimpan dalam kotak kaca jadi tidak bisa disentuh.

Satu lagi bangunan di bagian selatan Gedung Agung, dulunya adalah kantor LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) Antara, sejak direnovasi pada tahun 1994 menjadi bagian dari kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta. Bangunan tersebut saat ini digunakan untuk ruang sidang kabinet atau untuk ruang pertemuan besar seperti dalam acara peringatan Hari Anti Korupsi di tahun 2016.


Banyak hal yang bisa dipelajari saat berkunjung ke Istana Kepresidenan Yogyakarta. Anak-anak maupun orang dewasa yang tertarik dengan sejarah bangsa Indonesia, pasti senang jika berkunjung ke Gedung Agung. Jadi saat kamu berjalan-jalan di seputaran Malioboro, tak ada salahnya mampir ke Gedung Agung. Jangan lupa ketentuan berpakaian untuk masuk ke sini ya, juga perhatikan jam bukanya.


- arry -





Gedung Agung Yogyakarta
Jl. Ahmad Yani, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta
Jam buka : Setiap hari, pukul 09.00 - 14.00 WIB
HTM : gratis






You Might Also Like

0 komentar

Komentar Anda dimoderasi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya :)

Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar dan saya akan membalasnya. Sering-sering berkunjung ya, untuk mengecek dan membaca artikel lainnya di blog ini. Terima kasih. Maturnuwun. Thank you. Danke.