4 Tempat Ngopi Asyik Di Jogja Utara


Masih karena alasan daerah jajahan saya adalah seputar Jogja utara, maka yang ditulis di sini juga lokasinya di Jogja utara. Saya dan Si Paksu suka menyambangi coffee shop kalau lagi pengen 'ngopi serius', istilah kami untuk kopi yang diseduh oleh barista. Kalau ngopi di rumah, palingan ya kopi tubruk doang. Hehe.
Keempat tempat ngopi asyik ini setidaknya sudah kami kunjungi lebih dari dua kali. Kriteria coffee shop yang layak dikunjungi lebih dari sekali versi saya adalah selain kopinya enak, juga menyediakan area bebas asap rokok dan meja kursinya cocok untuk bekerja menggunakan laptop. Jarak yang dekat dengan rumah, nah itu poin plus juga. Walau terkadang saya berkunjung ke coffee shop hanya untuk sekedar mencium aroma kopi yang menyeruak dari mesin pembuat kopi, tapi lebih sering datang ke coffee shop sambil bawa laptop sih. Jadi seringkali pemilihan coffee shop buat saya dimulai dari pertanyaan "Tempatnya bisa buat laptop-an nggak?" :D Nggak harus coworking space sih, yang penting mejanya pas buat kerja pakai laptop.


Antologi Collaboractive Space


Lokasi coffee shop ini berada di sebuah gang yang hanya cukup dilewati satu mobil saja sehingga kalau berpapasan ya harus sabar bergantian. Di kanan kirinya banyak terdapat rumah kost mahasiswa. Saya cukup surprised mendapati ada sebuah coffee shop yang ukurannya cukup besar di area pemukiman seperti ini.

Jalan masuk menuju Antologi. Lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk dan rumah-rumah kost.


Coffee shop dengan interior bernuansa industrial ini memiliki area yang cukup luas. Di lantai 2 tersedia ruangan yang bisa disewa bulanan dan berfungsi layaknya sebuah kantor. Begitu kata mas manajer yang kala itu mengobrol dengan saya. Di Antologi ini juga bisa menyewa space untuk acara komunitas. Tertarik untuk menyewa? Bisa tanya langsung ke Mas Capung deh ya, dia mas manajernya. Itu nama asli? Entah ya, waktu kami berkenalan dia menyebut namanya "Capung". Buat saya itu nama yang lucu dan nggak merasa perlu untuk ditanyakan nama asli atau nama panggung :)))



Di Antologi selain menu kopi juga menyediakan aneka minuman non-kopi : coklat dan teh. Jadi aman ya kalau ada yang nggak suka kopi tapi pengen ke sini, ada alternatif yang bisa dipilih. Di sini juga menyediakan menu makanan yang meskipun bukan masuk kategori makanan berat, tapi semi berat kalau buat saya sih, misalnya sandwich. Sandwich tunanya enak, kalau roti pastry-nya so so aja. Kalau soal kopinya nggak usah ditanya deh ya. Seperti sudah saya bilang di atas tadi, rasa kopi yang enak adalah salah satu alasan saya kembali berkunjung. Jadi kalau rasa kopinya nggak enak, tentu saya tidak akan mengulang kunjungan saya ke coffee shop itu.


Di dalam ruangan, baik lantai 1 maupun lantai 2 adalah area ber-ac dan bebas rokok. Di bagian luar disediakan area untuk pengunjung yang mungkin ingin merokok. Konsep yang agak unik dan baru kali ini saya lihat di coffee shop Jogja adalah konsep self service dari awal sampai akhir. Beberapa coffee shop menerapkan sistem semi self service, yaitu saat pesanan siap, nama kita dipanggil untuk mengambil sendiri pesanan kita. Tapi di sini, selain mengambil sendiri pesanan, kita juga diminta untuk menaruh wadah makan minum bekas pakai di meja dekat bar. Jadi harus mandiri ya kalau ngopi di sini :D Salah satu barista yang waktu itu mengobrol dengan saya mengeluhkan susahnya menerapkan konsep ini. Masih banyak pengunjung yang entah tidak membaca atau lupa, tidak mengembalikan wadah makan minumnya ke meja dekat bar, sampai akhirnya mereka menempelkan pengumuman tentang ini di setiap meja. Oh ya, para barista yang ada di sini ternyata bukan karyawan Antologi, melainkan dari Wikikopi. Kalau kalian suka main ke Pasar Kranggan (dekat Tugu), di pojokan lantai 2 bagian depan itu markas Wikikopi berada. Jadi di sini Wikikopi dan Antologi saling berkolaborasi.

Area bar


Di coffee shop ini tersedia koneksi internet wifi gratis, namun jika kita membutuhkan koneksi internet yang lebih cepat, di sini ada penawaran paket bundling wifi dan makanan/minuman. Beberapa kali kami datang ke sini di waktu pagi dan siang hari di hari kerja, tempat ini cukup sepi. Namun seorang teman bercerita kalau dia pernah nggak jadi ngopi di sini gara-gara tempatnya penuh. Wow juga kalau sampai penuh, soalnya meja kursinya lumayan banyak lho. Belum lagi ada area untuk duduk lesehan, menghadap ke arah rak buku. Oh ya, di sini banyak buku yang bisa dibaca oleh pengunjung. Saya lihat sekilas, topik bukunya cukup beragam. Kalau siang hari di sini pengunjungnya banyak yang membawa laptop. Mungkin mahasiswa yang mengerjakan tugas. Banyak juga yang memilih area lesehan untuk sekedar leyeh-leyeh sambil membaca buku dan pernah juga saya lihat sekumpulan orang sedang berdiskusi serius di situ.




Ekologi Desk & Coffee


Coffee shop ini berlokasi di area yang cukup tenang, tidak berada di pinggir jalan raya. Bangunan dua lantai yang fasad depannya berupa kaca-kaca ini cukup luas juga, mencakup area indoor dan outdoor. Area outdoor-nya nampak menyenangkan jika digunakan untuk duduk-duduk di sore hari. Beberapa kali ke sini, saya sih tetap pilih area indoor supaya tidak perlu mencium bau asap rokok. Hehe.


Salah satu sudut di area outdoor

Di lantai dua tersedia beberapa ruangan yang bisa disewa untuk event. Area paling cocok untuk laptop-an sebenarnya juga di lantai dua karena di sini colokan kabelnya dekat dengan meja. Kalau di lantai bawah, beberapa meja tidak berada dekat dengan colokan sehingga saat kita perlu mengisi ulang daya baterai laptop, bakal ada kabel charger berseliweran di lantai. Berhati-hatilah saat melangkah karena khawatir kaki bisa tersangkut di kabel. Pernah saat saya berada di sana, ada mas-mas yang kakinya tersangkut kabel dan mengakibatkan ponsel miliknya yang sedang di-charge terbanting ke lantai. Duh, sayang banget kan kalau ada barang elektronik kita yang sampai terbanting begitu.

Area lantai 2 yang lebih cocok untuk bekerja dengan laptop

Selain kopinya yang enak, di sini saya juga suka dengan choco iced-nya. Aneka cake-nya juga enak. Suatu waktu saya pernah melihat mobil boks milik Cinema Bakery sedang parkir di halaman Ekologi dan terlihat karyawannya sedang menurunkan kotak-kotak berisi kue dari mobil. Yang saya tahu Cinema Bakery ini banyak menyuplai kue, roti, dan pastry ke berbagai coffee shop di Jogja. Kedai kopi favorit kami yang pernah saya tulis ceritanya, dulunya juga disuplai dari Cinema Bakery untuk cake dan pastry-nya. Namun kemudian mereka memproduksi sendiri aneka kue dan juga menyediakan makanan berat.


Dari segi tampilan, coffee shop ini yang paling instagramable di antara keempat coffee shop yang saya bahas kali ini. Sekali waktu ketika kami sedang ngopi di sini, terlihat ada sesi pemotretan pre-wedding. Tapi saya tidak tahu apakah sesi pemotretan seperti ini dikenakan charge atau tidak.


Aegis Coffee


Coffee shop ini terhitung mungil dibanding dua coffee shop yang sudah saya ceritakan di atas. Desain interiornya minimalis dengan cat tembok warna putih bersih. Hampir tidak ada hiasan apa-apa yang menempel di dinding, kecuali sebuah rak minimalis di dekat meja kasir yang kadang dipakai untuk memajang aneka kopi yang mereka jual, dan sebuah rak minimalis lainnya di dinding seberangnya yang diisi pot tanaman. Yang menarik perhatian saya dari awal datang ke tempat ini adalah banyaknya pot-pot tanaman yang dipajang di sini. Mulai dari area luar yang dihiasi tanaman di pot gantung, lalu di dinding dekat pintu masuk juga dihiasi pot-pot gantung, sampai di bagian dalam pun ada tanaman di pot juga.



Coffee shop ini juga merupakan sebuah roastery. Kopi yang dijual di sini merupakan olahan mereka sendiri. Aneka bungkus kopi yang dipajang di rak dekat kasir itu adalah kopi-kopi dari roastery mereka dan bisa dibeli dalam bentuk bean. Di coffee shop ini smoking dan non-smoking area juga dipisah. Di dalam ruangan yang ber-ac tentu dilarang merokok, sedangkan di area teras yang tidak ber-ac boleh digunakan oleh pengunjung yang merokok.


Sekali waktu saat saya berkunjung ke sini, saya mengobrol dengan salah satu barista bernama Mas Bintang. Ternyata ia adalah adik kandung salah satu pemilik Aegis. Waktu saya tanya kenapa coffee shop ini diberi nama Aegis dan kenapa ada huruf Jepang di bawah nama Aegis, kata Mas Bintang nama itu diambil dari game anime Jepang karena ketiga pemilik coffee shop ini adalah penggemar game dan fans berat anime Jepang. Nama Aegis sendiri muncul dalam mitologi Yunani. Aegis adalah nama sebuah tameng milik Dewi Athena yang dipakai oleh Zeus.

Mas Bintang, salah satu barista, yang juga adalah adik pemilik Aegis.
Katanya yang menjadi favorit di cofee shop ini adalah Copasus, alias kopi susu. Sudah saya coba dan saya suka dengan rasanya. Kopinya kuat terasa dan SKM (Susu Kental Manis)-nya pas, nggak lebay. Tapi minuman favorit saya di sini malah bukan kopi :D Saya suka Iced Thai Tea-nya. Tehnya kental dan terasa sekali, seimbang dengan rasa manisnya.


Di siang hari di hari kerja tempat ini cukup ramai dikunjungi orang. Selain mahasiswa yang mengerjakan tugas, beberapa kali saya bertemu dengan para pekerja kantoran yang terlihat dari baju seragam yang mereka kenakan. Menurut Mas Bintang coffee shop ini lebih ramai lagi di malam hari.


Sekawan Coffee


Coffee shop ini terletak di pinggir Jl. Seturan yang ramai. Berada di seberang persis kampus YKPN Seturan, pengunjung tetap coffee shop ini kebanyakan adalah mahasiswa. Keempat pemiliknya juga adalah para mahasiswa YKPN. Saya sempat mengobrol dengan salah satu dari mereka, namanya Mas Yanda, mahasiswa YKPN jurusan Manajemen.

Sekawan dalam bahasa Jawa artinya empat. Ya, pemilik Sekawan Coffee ini berjumlah empat orang. Menurut Mas Yanda, mereka berempat membagi tugas dan tanggung jawab coffee shop ini sesuai dengan minat masing-masing. Ada yang pegang bagian keuangan, pemasaran, SDM, dan Mas Yanda sendiri bertugas di bagian manajemen operasional sekaligus sebagai head bar.

Beberapa tahun terakhir ini bisa dibilang bisnis coffee shop booming di Jogja. Patah tumbuh, hilang berganti, nampaknya peribahasa yang tepat untuk menggambarkan bisnis ini. Banyak muncul coffee shop baru, namun banyak juga yang akhirnya tutup.

"Iya mbak, persaingannya memang ketat. Di Jogja itu ada 1300an coffee shop. Tapi kami suka sekali dengan kopi, dan optimis dengan bisnis ini, makanya tetap buka meskipun tahu kalau persaingannya seperti itu."

Wow......mata saya terbelalak membayangkan ada sebanyak itu coffee shop di kota yang luasan wilayahnya terbilang imut ini. Salut deh dengan semangat Mas Yanda dan teman-temannya menggawangi bisnis ini.

Mas Yanda, head bar sekaligus salah satu pemilik Sekawan Coffee.

Berada di lingkungan kampus dan menyasar pasar mahasiswa, coffee shop ini meluncurkan jurus harga murah ala mahasiswa. Antara jam 08.00-12.00 setiap harinya ada yang namanya Kopi Pagi  dengan harga Rp.5.000-Rp.10.000. Di menu Kopi Pagi ini yang saya paling suka adalah Shaken Espresso. Untuk signature menu, mereka punya Mr.Brown, Gusto, dan Lafa. Yang sudah pernah saya coba adalah Mr.Brown dan Gusto. Lafa saya nggak berani nyoba karena pakai es di-blend. Terlalu dingin buat tenggorokan saya :D Antara Mr.Brown dan Gusto, saya lebih suka Gusto karena kopinya lebih terasa. Kalau Mr.Brown terlalu manis di lidah saya. Di coffee shop ini tidak tersedia menu makanan berat. Teman ngopi di sini cuma makanan ringan saja. Yang pernah saya coba hanya croissant-nya. Rasanya so so alias biasa saja, nggak istimewa.


Sejak sering nggak kebagian meja di kedai kopi favorit kami karena penuh, kami jadi sering ke Sekawan Coffee. Kalau dari segi tempat, saya sih lebih senang di Sekawan karena ada area non-smoking, jadi bebas bernapas tanpa bau asap rokok. Iya, saya memang agak rewel soal asap rokok :D Coffee shop ini ukurannya tidak terlalu besar, mungkin sama dengan Aegis Coffee. Interiornya juga minimalis dengan dinding bercat putih. Sebenarnya bangunannya ada dua lantai, tapi lantai dua tidak dipakai untuk serving area. Di lantai dua ada mushola yang ukurannnya cukup luas, dan toilet. Di ketiga coffee shop yang saya ceritakan di atas, kecuali di Aegis Coffee, juga tersedia mushola.


Di awal berdirinya coffee shop ini menggunakan gelas sekali pakai yang menurut cerita Mas Yanda ini dikarenakan lahan parkir yang terbatas. Jadi kalau pengunjung tidak bisa berlama-lama nongkrong, bisa langsung membawa pulang minuman kopinya. Memang salah satu kekurangan coffee shop ini adalah keterbatasan lahan parkir, terutama untuk mobil. So, kalau mau ke sini mending naik motor deh ya, atau ojek online. Atau kalau lagi mager, menu Sekawan Coffee juga bisa dipesan via GoFood.

Eh tapi kalau saya sih lebih suka datang langsung ke coffee shop. Menyeruput kopi sambil menghirup aroma kopi yang memenuhi ruangan coffee shop, itu salah satu momen yang sayang dilewatkan oleh panca indera ;)


- arry -



Antologi Collaboractive Space
Gg. Gayamsari II no 9 C, Jl. Kaliurang km 4.5, Caturtunggal,
Depok, Sleman.
Jam buka : 07.00 - 22.00 WIB.
Harga : Vietnam Drip 20K (hot), Kombucha 12K, Tuna Mayo Sandwich 12K.
Google Maps


Ekologi Desk & Coffee
Jl.Pandeansari Blok IV No 10 A, Condongcatur, Depok, Sleman.
Jam buka : 10.00 - 24.00 WIB.
Harga : Aeropress Coffee 25K, Ice Chocolate 25K, Greentea Cake 32K.
Google Maps


Aegis Coffee
Jl. Perumnas No 249 F, Caturtunggal, Depok, Sleman.
Jam buka : 08.00 - 02.00 WIB
Harga : Copasus 23K, Thai Tea 22K.
Google Maps


Sekawan Coffee
Jl. Seturan Raya No C-10, Caturtunggal, Depok, Sleman (seberang kampus YKPN).
Jam buka : 08.00 - 01.00 WIB
Harga : Gusto 25K, Espresso 22K, Butter Croissant 10K.
Google Maps

You Might Also Like

0 komentar