Perayaan 100 Tahun Bangunan The Phoenix Hotel Yogyakarta


The Phoenix Hotel Yogyakarta. Saat melewati area Tugu, mata saya seringkali terpaku melihat fasad bangunan hotel ini. Nampak antik dan anggun. Jadi bikin penasaran, adakah cerita menarik di baliknya? Hari Minggu lalu rasa penasaran saya terjawab.

Di hari Minggu itu saya mendapat undangan untuk menghadiri The Story of a Greatness - Influencer & Blogger Rendezvous, sebuah acara dalam rangkaian perayaan 100 tahun The Phoenix Hotel Yogyakarta. Hah?! Hotelnya sudah seabad umurnya? Hehe....bukaaaan, ternyata yang seabad itu umur bangunan hotelnya saja. Bagian depan hotel, lebih tepatnya. Mengawali acara, kami dipersilakan mengikuti hotel tour, dan di sinilah saya mendapat penjelasan yang menjawab kepenasaran saya. Ya, hotel antik nan anggun ini ternyata memang menyimpan banyak cerita sejarah dan segudang cerita menarik di dalamnya.


SEJARAH SINGKAT

Bangunan asli hotel ini ada di bagian depan, yaitu mulai dari halaman, lobi, sampai koridor dekat Cendrawasih Meeting Room. Dibangun sebagai rumah tinggal pada tahun 1918 oleh seorang saudagar dari Semarang bernama Kwik Djoen Eng. Terkena dampak resesi ekonomi di tahun 1930, Kwik Djoen Eng kemudian menjual rumahnya pada Liem Djoen Hwat, yang kemudian meyewakannya pada seorang pengusaha Belanda, D. N. E Franckle. Oleh penyewanya rumah ini dijadikan hotel dengan nama Splendid Hotel.

12 tahun kemudian, saat pendudukan Jepang di Indonesia hotel ini dikuasai oleh Jepang dan berganti nama menjadi Yamato Hotel. Di tahun 1945 saat Jepang meninggalkan Indonesia, hotel ini dikembalikan kepada pemiliknya, Liem Djoen Hwat. Setelah Indonesia merdeka, karena situasi genting di Jakarta maka pada tahun 1946-1949 ibukota negara dipindah ke Yogyakarta. Pada masa ini bangunan hotel difungsikan sebagai kediaman resmi Konsulat Cina.

Di tahun 1951 bangunan ini disewa oleh Direktorat Perhotelan Negara dan Pariwisata dan dijadikan hotel bernama Hotel Merdeka. Cukup lama Hotel Merdeka ini beroperasi hingga pada tahun 1988  Sulaeman, cucu Liem Djoen Hwat, mengambil alih dan memutuskan untuk mengelola sendiri hotel ini. Proses renovasi bangunan ini mulai dilakukan dan selesai di tahun 1993. Kapasitas hotel menjadi 66 kamar karena ada penambahan bangunan baru. Pada 18 Maret 1993 hotel ini resmi beroperasi di bawah manajemen keluarga Sulaeman dengan nama Phoenix Heritage Hotel. Berkat konsistensinya mempertahankan arsitektur bangunan kuno, pada 1996 bangunan asli hotel ini dideklarasikan sebagai bangunan cagar budaya. Hotel ini juga menjadi contoh terbaik The 19th Century Indische Architecture, berkat perpaduan gaya Eropa yang artistik dengan elemen Cina dan Jawa.

Pada tahun 2003 Phoenix Heritage Hotel berpindah kepemilikan ke tangan Imelda Sundoro Hosea, seorang pengusaha asal kota Solo. Ia berkomitmen untuk terus menjaganya sebagai bangunan warisan budaya. Menggandeng jaringan hotel internasional, AccorHotel, Imelda mewujudkan visinya menjadikan hotel ini sebagai hotel bintang 5. Kemudian renovasi besar-besaran pun dilakukan untuk menyesuaikan standar internasional dari pihak AccorHotel. Setelah 1 tahun berhenti beroperasi karena renovasi maka pada 2004 hotel ini dibuka kembali dan menggunakan nama Grand Mercure Yogyakarta dengan kapasitas 144 kamar dan merupakan hotel butik bintang 5.

Rebranding dilakukan pada tahun 2009 dengan mengganti nama hotel kembali ke nama pemberian keluarga Liem Djoen Hwat. Kata 'Phoenix' yang memiliki arti 'keabadian', kembali digunakan. Grand Mercure Yogyakarta berganti nama menjadi The Phoenix Hotel Yogyakarta, a Member of MGallery Collection. Di tahun 2016 pihak manajemen AccorHotel mengubah nama MGallery Collection menjadi MGallery by Sofitel hingga sekarang.


HOTEL TOUR

Mengawali rangkaian acara Influencer & Blogger Rendezvous ini kami dipersilakan mengikuti hotel tour. Karena peserta cukup banyak maka kami pun dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok saya didampingi oleh Mas Uki, Sales Manager The Phoenix Hotel Yogyakarta. Hotel tour dimulai dari area belakang gedung. Di sini Mas Uki memperkenalkan fasilitas-fasilitas yang dimiliki hotel ini. Dimulai dari area kolam renang, kemudian kelompok kami beranjak ke area spa. Di MySpa ini tersedia aneka layanan perawatan tubuh ala tradisional Jawa. Produk yang digunakan di MySpa ini adalah produk lokal buatan Indonesia, yaitu produk dari Mustika Ratu.

Bagian pinggir kolam renang, dilengkapi dengan kursi-kursi untuk berjemur.

Salah satu sudut di MySpa

Ruang perawatan MySpa

Produk Mustika Ratu yang digunakan di MySpa

Dari area spa kami menuju ruang fitness. Ruang yang baru direnovasi ini memiliki peralatan fitness yang cukup lengkap. Tempat fitness ini juga menerima membership umum. Bagi yang terdaftar sebagai member berhak mendapat fasilitas akses gratis penggunaan kolam renang. Keluar dari ruang fitnes kami menyusuri selasar untuk kemudian naik ke lantai 2 untuk melihat kamar hotel. Di selasar  dan teras-teras hotel ini banyak sekali spot antik berisi barang-barang kuno. Perpaduan budaya Jawa dan Cina dalam bangunan bergaya Eropa ini terasa kental sekali. Di berbagai penjuru kita bisa menemukan banyak patung Loro Blonyo, ukiran-ukiran nan cantik, guci dan piring-piring Cina, dsb. Di salah satu spot terlihat tiga buah guci antik Cina berukuran besar dan tinggi. Menurut Mas Uki, tadinya guci-guci ini berjumlah empat buah, mengisi keempat sudut yang ada di tempat tersebut. Namun salah satu guci pecah saat terjadi gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006.

Kolam renang berlokasi di tengah-tengah gedung

Ruang fitnes

Selasar yang dipenuhi barang-barang kuno

Guci antik Cina berukuran besar dan tinggi

Di koridor lantai 2 menuju kamar-kamar juga masih diisi dengan lemari-lemari yang memajang barang-barang kuno. Menurut Mas Uki barang-barang ini adalah hasil buruan pemilik hotel saat traveling ke berbagai penjuru dunia. Kamar yang kami kunjungi dalam hotel tour ini bertipe Deluxe Room lengkap dengan balkon kecil menghadap ke kolam renang. Di setiap kamar terdapat hiasan  dinding kain batik dengan motif khas burung Phoenix yang sudah dipatenkan menjadi motif milik The Phoenix Hotel Yogyakarta. Hotel ini memiliki kamar sebanyak 143 buah, 8 ruang pertemuan, 1 ballroom, kolam renang, spa, ruang fitnes, butik, dan cake shop.

Motif batik bergambar burung Phoenix yang menjadi hiasan dinding ini sudah dipatenkan menjadi motif milik
The Phoenix Hotel Yogyakarta

Balkon ada di setiap kamar

Selesai mengeksplorasi bagian belakang gedung, tibalah saatnya kami berkeliling di area gedung bagian depan yang usianya 100 tahun ini. Di sinilah cerita-cerita menarik mengenai gedung ini berada.

Burung Phoenix dari bahan tembaga yang menempel di gagang pintu menuju teras belakang

Di halaman antara gedung belakang dan depan, ada sebatang pohon Tanjung yang tinggi. Rupanya pohon tersebut ditanam oleh presiden RI ke-1 pada tahun 1951. Pohon tersebut dipertahankan dan dipelihara karena merupakan bagian dari sejarah hotel ini. Di teras belakang yang difungsikan sebagai restoran, perpaduan tiga budaya terasa kental sekali. Arsitektur bangunan bergaya Eropa berpadu dengan desain dan motif keramik Cina dan furnitur ukiran khas Jawa. Di gedung bagian depan ini ada sebuah ruangan yang berisi banyak barang-barang antik bersejarah. Ruangan ini juga berfungsi sebagai bagian dari lobi hotel. Saat duduk-duduk di sini kita bisa sambil melihat-lihat koleksi barang antik yang dipajang. Meja kursi yang digunakan untuk duduk di ruangan ini pun merupakan barang antik yang usianya cukup tua. Yang paling menarik buat saya adalah sebuah pigura berisi koran terbitan 1918. Wow coba bayangkan, kertasnya saja sudah seabad umurnya.

Pohon Tanjung yang ditanam oleh Soekarno pada tahun 1951

Restoran yang berada di teras belakang

Setiap pagi saat sarapan tamu-tamu hotel akan dihibur  oleh live show gamelan seperti ini

Area teras belakang yang dindingnya dihiasi keramik Cina 

Gebyok dan kursi ukiran khas Jawa

Ruangan di gedung bagian depan hotel, difungsikan sebagai bagian dari lobi hotel dan seringkali digunakan para tamu untuk duduk-duduk. Ruangan ini dipenuhi barang-barang antik, termasuk meja dan kursinya pun antik.

Koran terbitan tahun 1918

Patung antik penari Bali yang terbuat dari koin tembaga asli

Seperti sudah saya ceritakan di atas, pada tahun 1946-1949 ibukota negara Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Pada masa itu, presiden RI ke-1 sempat tinggal dan berkantor di gedung kuno ini. Ruangan yang pernah dipakai sebagai kantor Soekarno berada di lantai 2, dan untuk menuju ke sana harus melewati tangga putar besi yang antik. Ruangan kantor ini memiliki sebuah balkon yang konon bisa digunakan Soekarno jika dalam kondisi darurat hendak meminta bantuan dari kraton Yogyakarta. Dahulu di Yogyakarta memang ada aturan larangan pendirian bangunan tinggi di area antara kraton, Tugu, dan Gunung Merapi.

Mas Uki dan tangga putar besi menuju ruangan tempat Bung Karno pernah berkantor

Ruang yang pernah menjadi ruang kerja Bung Karno. Saat ini digunakan sebagai kantor General Manager
The Phoenix Hotel Yogyakarta

Balkon di depan ruang kerja yang dulu bisa digunakan Bung Karno untuk meminta bantuan dari Kraton Yogyakarta dalam kondisi darurat


Influencer and Blogger Rendezvous

Setelah hotel tour berakhir, kami dipersilakan kembali ke ruangan untuk mengikuti kelanjutan acara Influencer & Blogger Rendezvous. Acara yang diselenggarakan The Phoenix Hotel Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta ini menghadirkan pentas wayang dan tari-tarian yang dipersembahkan oleh Dimas Diajeng Yogyakarta dan beberapa karyawan The Phoenix Hotel Yogyakarta.

Sambil menikmati makan siang kami dihibur oleh pementasan tari Golek Ayun-Ayun oleh beberapa penari yang salah seorang diantaranya adalah karyawan The Phoenix Hotel Yogyakarta. Tarian ini menceritakan tentang gadis yang beranjak dewasa yang mulai gemar bersolek dan berhias diri. Tarian ini merupakan tarian klasik gaya Yogyakarta yang biasanya dipentaskan untuk menyambut tamu agung.

Tari Golek Ayun-Ayun

Pertunjukan selanjutnya adalah pentas wayang kulit oleh perwakilan Dimas Diajeng Yogyakarta, yaitu Rizki Rahma Nurwahyuni yang kali ini membawakan lakon Wahyu Cakraningrat. Lakon ini menceritakan tentang upaya tiga orang kesatria yang bertarung untuk mendapatkan gelar Wahyu Cakraningrat. Mbak Rahma ini mempelajari wayang kulit sejak kelas 3 SD. Ia belajar mendalang dari ayahnya yang juga seorang dalang.

Pentas wayang kulit lakon Wahyu Cakraningrat oleh seorang dalang perempuan

Perwakilan Dimas Diajeng Yogyakarta lainnya, Dwibagus Andika Rahmanto, juga unjuk kebolehan  di sini. Ia mementaskan Tari Kelana Alus Sumyar yang bercerita tentang Dewi Arimbi yang menyamar menjadi laki-laki. Cuplikan tariannya bisa dilihat di unggahan akun Instagram saya di sini.  Mas Dwi belajar menari sejak usia 4 tahun. Adalah tantenya yang juga seorang guru tari yang mengajari Mas Dwi menari. Karena sering diajak tantenya ke sanggar tari, lama-lama Mas Dwi tertarik belajar menari.

Tari Kelana Alus Sumyar yang dipentaskan oleh seorang penari laki-laki

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cindera mata oleh perwakilan The Phoenix Hotel Yogyakarta, Miftahul Rozi, kepada Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Yunianto Dwi Setiono, serta perwakilan Dimas Diajeng Yogyakarta, dan kemudian diakhiri dengan foto bersama.




- arry -





The Phoenix Hotel Yogyakarta
MGallery by Sofitel
Jl. Jend. Sudirman No 9, Yogyakarta
Telp : 0274-566617
Email : info@thephoenixyogya.com
Website : thephoenixyogya.com

You Might Also Like

0 komentar