Es Dawet Ayu Yang Penjualnya Tidak Ayu


Teriknya matahari Jogja siang itu membuat pikiran melayang membayangkan segelas es dawet yang segar. Untuk urusan minuman dawet, pilihan saya selalu es dawet ayu Banjarnegara di daerah Pengok alias di depan Balai Yasa (bengkel lokomotif kereta api). Di ruas jalan itu berjajar penjual es dawet ayu, tinggal pilih yang mana suka. Langganan saya, yang jualannya di dekat pintu gerbang Balai Yasa. Kalau dulu mangkalnya persis di depan jam besar di halaman Balai Yasa, kalau sekarang agak bergeser sedikit ke sebelah baratnya.


Mas Reno, nama penjualnya. Cowok, makanya nggak ayu. Hahaha. Mas Reno orang Banjarnegara asli yang tinggal di Jogja sejak 10 tahun yang lalu. Sebulan sekali dia pulang ke Banjarnegara untuk menengok istri dan dua anaknya. Saat ia mudik, kakaknya yang menggantikan dia berjualan es dawet. Musim kemarau adalah musim yang selalu dinantikan. Berjualan dari jam 9 pagi dan paling mentok sampai jam 5 sore, 50 liter es dawet bisa ludes dia jual tiap harinya. Cuaca Jogja di bulan Oktober ini, meskipun udara terasa panas namun terlihat mendung mulai menggantung, mau tak mau membuat hatinya waswas.

"Agak deg-degan ini mbak, kalau lihat cuacanya sudah mulai mendung begini. Mana hari ini saya bawa banyak (stok dagangan)."

Mas Reno, penjual dawet ayu yang tidak ayu :D

Mas Reno mematok harga Rp.4000 untuk segelas besar es dawet jualannya. Saya kenal es dawet buatannya sejak masih berharga Rp.2500 beberapa tahun yang lalu. Saya tidak pernah berganti langganan, hanya kalau pas dia tidak jualan aja baru saya pindah ke penjual lain. Tenggorokan saya termasuk sensitif. Jika minum minuman yang menggunakan gula biang, biasanya kontan langsung gatel tenggorokan. Nah kalau minum es dawet yang ini, tenggorakan saya nggak pernah gatel. Menurut standar saya, es dawetnya Mas Reno ini terbukti menggunakan gula asli :D

"Saya bikin dawetnya dari tepung beras mbak, dan pewarnanya pakai daun pandan makanya warnanya nggak terlalu hijau begini. Gulanya asli aren, mbak."

Gulanya asli, nggak bikin gatel tenggorokan.

Bentuk dawetnya kecil-kecil karena ia menggunakan cetakan kecil. Beda dengan es cendol bandung yang bentuknya besar-besar. Cendol dan dawet ini sebenarnya sama aja, sama-sama terbuat dari tepung beras dan kuahnya sama-sama menggunakan santan dan gula merah cair sebagai pemanisnya. Yang beda hanya daerah asalnya aja jadi namanya beda.

Segeeeerrrrr!!!

Selain rasa dawetnya yang menyegarkan, saya juga suka lokasi para tukang dawet ini berjualan. Menempati area di bawa pohon-pohon besar yang rindang, membuat acara minum dawet ini serasa piknik. Tapi jangan kaget ya kalau tiba-tiba ada suara mesin kereta yang meraung dari arah Balai Yasa. Ya namanya juga bengkel lokomotif, jadi kadang terdengar suara lokomotif yang sedang diuji coba setelah diperbaiki. Kadang juga lokomotifnya terlihat melintas di halaman depan Balai Yasa. Kalau ada lokomotif lewat begini, yang senang tentu saja si Bocah. Gampang ya bikin anak kecil senang, cukup begitu doang aja udah girang dia. Hahaha.

Di sepanjang Jl.Kusbini ini banyak pohon-pohon besar seperti ini. Akar pohon yang menyembul di atas tanah saja tingginya sama dengan tinggi motor.

Partner minum es dawet :D

Balai Yasa dilihat dari seberang jalan tempat Mas Reno berjualan

Pintu gerbang Balai Yasa. Ada jam besar di halamannya. Lokasi jualan Mas Reno di area seberang jam itu.

Untuk yang datang dengan kendaraan motor bisa langsung parkir di sebelah bangku-bangku plastik yang tersedia. Jika membawa mobil, bisa diparkir di seberang selokan. Bonusnya, bisa sambil main uji keseimbangan meniti balok kayu, untuk sampai ke seberang. Takut badan nggak seimbang? Tenang, ada jalan aspal kok meskipun agak jauh jalannya karena harus memutar dulu. Saya sarankan sih kalau bawa mobil jangan parkir di pinggir jalan, karena Jl.Kusbini ini ukurannya tidak terlalu lebar jadi akan mengganggu arus lalu lintas kalau kita parkir di pinggir jalan. Area parkirnya di sini bebas biaya parkir alias tidak ada tukang parkirnya.

Parkir mobil di seberang selokan. Areanya adem di bawah pohon dan bebas biaya parkir.

Bonus parkir di seberang selokan : sarana uji keseimbangan. Berani mencoba? :))))

Di tengah cuaca panas dimana tenggorokan butuh disegarkan dengan minuman dingin, es dawet ayu Banjarnegara ini bolehlah dijadikan pilihan. Nikmatnya minum segelas es dawet ditemani angin sepoi-sepoi di bawah pohon nan rindang. Segelas masih kurang? Pesan lagi! Kayak saya yang seringnya minum 2 gelas kalau ke situ. Hihi.


- arry -



Es Dawet Ayu Banjarnegara (Mas Reno)
Depan UPT Balai Yasa
Jl. Kusbini, Pengok, Yogyakarta
Buka pk.09.00 s/d habis








You Might Also Like

0 komentar