Ngopi Di Bukit Menoreh, Sebuah Sensasi Menikmati Kopi


Berawal dari rasa penasaran denger cerita teman-teman tentang kedai kopi menoreh, lalu berlanjut ngetik kata kunci 'kedai kopi menoreh' di Googlemaps karena pengen tau berapa kilometer jaraknya dari rumah, ternyata yang muncul pertama adalah Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat yang jaraknya 34 km dari rumah kami. Dan demi menuntaskan rasa penasaran, di suatu pagi setelah mengantar si Bocah sekolah, kami pun memulai perjalanan ke barat mencari tongkat sakti  menuju perbukitan Menoreh demi secangkir kopi. Halah.....ini perjalanan opo tho sebenernya? :D


Walau jauh, namun perjalanan menuju kedai kopi ini sangatlah menyenangkan. Memasuki area kecamatan Minggir, Sleman, mata dimanjakan oleh pemandangan hamparan sawah nan luas. Ya, kabupaten Sleman memang merupakan lumbung padi bagi provinsi DIY, maka tak heran jika area persawahannya demikian luas. Satu spot yang membuat saya terpukau adalah saat kami melintas jembatan di atas Sungai Progo. Menengok ke arah kanan, pemandangan indah terpampang di depan mata. Berlatar siluet Gunung Merapi, terlihat aliran Sungai Progo yang terbingkai pepohonan di sisi-sisinya. Serasa memandang foto pemandangan alam yang sering tampil di kalender, indah sekali. Tapi karena perjalanan masih jauh dan kami ingin segera sampai di tujuan, maka kami memutuskan untuk tidak berhenti di jembatan ini. Jadi nggak ada fotonya deh. Hihi.

Memasuki area perbukitan Menoreh, jalanan mulai menanjak. Medan terberat dalam perjalanan ini adalah di 2 km terakhir menuju lokasi. Jalanan menyempit dan beberapa kali ditemui tanjakan dengan kemiringan cukup ekstrim membuat kami bersyukur memilih motor sebagai moda transportasi kami. Jika naik mobil, bisa dibayangkan kesulitannya terutama saat harus berpapasan dengan mobil lain di jalan tanjakan yang sempit begitu.

Sampai di lokasi kami disambut oleh bapak dan ibu paruh baya yang ternyata adalah Bapak dan Ibu Rohmat sendiri, pemilik kedai kopi tersebut. Keduanya menyambut kami dengan ramah, menanyakan asal daerah kami, lalu mempersilakan kami untuk masuk. Sebuah keramahan khas masyarakat pedesaan di Jawa. Melihat kami yang datang menggunakan motor, Pak Rohmat bercerita bahwa belum lama ini kedai kopinya kedatangan rombongan touring motor Nmax dari Bandung. Rupanya kedai kopi ini memang kerap kedatangan rombongan touring motor dari Jogja maupun dari kota-kota lainnya.

Dari arah jalan, penampakannya seperti ini. Rumah Pak Rohmat masuk ke jalan yang  di sebelah kiri.

Tampak depan rumah Pak Rohmat

Halaman belakang rumah Pak Rohmat. Belum sampe di kedai kopinya nih. Makin penasaran, dimana sih si kedai kopi?

Taraaaaa......ini dia kedai kopinya!

Kami dipersilakan masuk melewati bagian samping rumah, langsung menuju halaman belakang. Kedai kopi Pak Rohmat ternyata berada di halaman belakang rumahnya, menghadap ke arah lembah. Pemandangannya asri sekali dan udara bersih terasa segar saat dihirup hidung dan memenuhi paru-paru. Di kedai kopi ini kita bisa memilih mau duduk di area bermeja-kursi atau di area lesehan. Pemandangannya sama-sama ke arah lembah.

Tempat ngopi di tengah hutan Bukit Menoreh
Bisa ngopi di gazebo

Area lesehan juga ada

Awalnya dulu kedai kopinya cuma di teras ini aja, dengan 2 buah meja panjang.

Hari beranjak siang, tapi udara masih terasa dingin, membuat saya merapatkan jaket. Udara dingin membuat perut lapar, apalagi memang kami belum sarapan. Saat melihat-lihat daftar menu, kami bertanya kopi apa yang menjadi andalan kedai kopi ini. Kopi luwak dan kopi lanang, jawab Pak Rohmat. Pak suami langsung tertarik untuk mencoba kopi luwak, yang menurut Pak Rohmat berasal dari luwak liar, sementara saya masih bingung mau pilih kopi lanang atau yang lain saja. Soalnya namanya 'lanang', jadi kepikiran apa ini jenis kopi khusus cowok apa gimana gitu. Hahaha. (Dalam bahasa jawa 'lanang' artinya laki-laki). Menurut Pak Rohmat, kopi lanang ini bijinya merupakan biji kopi tunggal, padahal kopi adalah tanaman dikotil sehingga harusnya bijinya berkeping dua. Kelainan biji kopi ini terjadi secara alami, dan biasanya saat panen para petani kopi akan memisahkan biji kopi tunggal ini dari biji kopi lainnya. Minum kopi ini akan membuat badan terasa segar kata Pak Rohmat. Tapi dijamin isinya murni kopi saja tanpa tambahan bahan-bahan lain. Ok deh, fix saya pilih kopi lanang saja.


Menu kopi bisa dipilih apakah mau kopi saja atau paketan dengan cemilan tradisional seperti kacang rebus, ketela, dan geblek (makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari tepung kanji, bumbu bawang putih, dan kelapa parut). Kami memilih kopi saja, soalnya saya pengen cemilannya pisang goreng dan si paksu pengen mendoan panas. Sambil menunggu pesanan kami datang, Pak Rohmat menemani kami mengobrol. Menurut Pak Rohmat, dia selalu berusaha mengajak ngobrol satu persatu tamu yang datang ke kedainya. Saat akhir pekan kedainya biasanya ramai pengunjung, jadi tiap tamunya hanya bisa ditemani mengobrol sebentar saja. Rupanya Pak Rohmat ini tipe orang yang senang bercerita, sementara saya hobinya nanya-nanya. Jadi klop kan. Ahahaha.

Kopi luwak. Kata Pak Rohmat dari luwak liar, bukan luwak yang sengaja dipelihara.

Kopi lanang.
Jika ingin manis, tersedia gula pasir dan gula aren. Silakan pilih sesuai selera.

Pisang goreng, pilihan ciamik buat temen ngopi :D

Mendoan panas dicocol sambal kecap, yummmm....

Ketika cemilan belum bikin perut kenyang, pesanlah makanan berat :D

Menu dhaharan (makanan) paket 3

Menu dhaharan paket 1
Sayur lompong. Sayur tradisional dari bahan batang talas.

Kopi merupakan usaha turun-temurun di keluarga Pak Rohmat. Mereka memiliki kebun kopi seluas 6000 m2 yang mampu menghasilkan 100 kg biji kopi setiap kali panen.

"Kalau dulu yang dijual cuma biji kopi saja, Mbak. Saya bawa ke pasar. Dibeli sama tengkulak, harganya rendah sekali. Trus ada penyuluhan dari dinas (perkebunan) tentang pengolahan biji kopi. Kami diajari cara mengolah biji sampai menjadi bubuk kopi supaya harga jualnya naik."



Sejak tahun 2010 Pak Rohmat menjual bubuk kopi. Ia berkeliling ke rumah makan dan kafe-kafe di Jogja untuk menawarkan produk kopinya. Rupanya banyak yang suka dengan bubuk kopi robusta produksi Pak Rohmat, pesanan pun membanjir. Pak Rohmat sampai harus mengambil biji kopi dari para petani di sekitarnya demi memenuhi permintaan yang rata-rata mencapai 50 kg perbulan, sementara kebunnya hanya menghasilkan 100 kg saja tiap kali panen (panen kopi hanya setahun sekali). Kalau untuk jenis kopi arabica harus didatangkan dari daerah lain.

"Yang ditanam di sini hanya jenis robusta aja ya Pak?"
"Iya Mbak, soalnya ketinggian tanahnya di sini kan hanya 500 meter (mdpl) jadi cocoknya ditanam robusta. Kalau arabica harus di ketinggian minimal 800 meter (mdpl)."
"Kebunnya ada di daerah sini, Pak?"
"Iya Mbak, ada di bawah sana, 20 menit jalan kaki dari sini. Mbak mau diantar ke sana?"
"Mmmm....di bawah  ya Pak, ntar pulangnya nanjak dong. Enggak deh Pak, capek. Hehehe."

Tempat menyangrai kopi secara tradisional.
Jika sedang ramai order, Pak Rohmat bisa menyangrai hingga 20 kg kopi sehari.
Kendi tempat air gini bikin saya inget suasana jadul di rumah Mbah saya :D

Kedai kopi ini didirikan Pak Rohmat di tahun 2014 atas anjuran salah seorang koleganya, pemilik sebuah rumah makan di Kotagede, Jogja, yang merupakan pelanggan bubuk kopi produksi Pak Rohmat. Pada suatu hari si pemilik rumah makan itu berkunjung ke rumah Pak Rohmat. Saat melihat halaman belakang rumah, ia menyarankan untuk membuat semacam kedai kopi supaya orang bisa menikmati kopi robusta Menoreh langsung di tempat asalnya. Pak Rohmat mengikuti saran tersebut dan membuka kedai kopi di halaman belakang rumahnya. Awalnya sang pemilik rumah makan itu yang membantu promosi kedai kopi Pak Rohmat dengan mengajak teman-teman klub motornya berkunjung ke sana. Cerita tentang kedai kopi Pak Rohmat pun menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya kedai kopinya ramai dikunjungi orang.

Pengunjung yang datang ke kedai kopi Pak Rohmat tidak hanya berasal dari Jogja dan sekitarnya, namun juga dari luar Jawa bahkan dari luar negeri juga ada.

"Kadang ada yang sampai nginep di sini, Mbak. Tidurnya seadanya saja dan mereka bawa peralatan sendiri, karena saya kan memang tidak menyediakan penginapan khusus."


Jangan lupa diisi buku tamunya

Pengunjung kedai kopi Pak Rohmat bahkan ada yang dari Afrika segala

Udara yang sejuk, suasana yang asri, kopi yang nikmat, makanan dan cemilan yang enak, pemilik kedai yang ramah dan bersahaja, adalah sebuah kombinasi sempurna yang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini. Nggak nyesel deh jauh-jauh datang ke sini. Saat pulang, jangan lupa membeli kopi bubuk produksi Pak Rohmat untuk diseduh di rumah. Ah tapi......... pasti beda sih sensasinya dengan ngopi langsung di tempat asalnya. Hehe.

Waktu mau difoto, "Sebentar Mbak, saya ambil blankon dulu. Supaya sama dengan gambar (logo) yang di atas itu."
Rupanya si bapak cukup paham soal branding produk ya :D
Kopi bubuk kemasan 100 gr. Bisa buat nyeduh kopi di rumah.

Tips jika hendak berkunjung ke kedai kopi Pak Rohmat :
1. Gunakan aplikasi penunjuk jalan (GPS) untuk menuju lokasi. Kalau kami menggunakan Googlemaps. Cukup handal mengantarkan kami ke lokasi tanpa perlu bertanya-tanya lagi ke penduduk sekitar. Kata kunci di Googlemaps : kedai kopi Menoreh Pak Rohmat.
2. Sebaiknya menggunakan moda transportasi motor karena jalannya sempit. Jika naik mobil harus ekstra hati-hati dan perlu kesabaran tinggi, terutama saat berpapasan dengan mobil lain. Salahsatu harus mengalah dan berhenti.
3. Jika tidak berencana menginap, perkirakan waktu pergi dan pulang agar tidak kemalaman di jalan. Jalan di area perbukitan Menoreh tidak ada penerangan lampu jalan, sehingga akan menyulitkan jika kita kemalaman di jalan. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam dari kota Jogja.
4. Operator seluler yang sinyalnya sampai di kedai kopi Pak Rohmat hanyalah XL. Sinyal Telkomsel di hp saya megap-megap begitu sampai di lokasi. Untung fungsi GPS nya masih berfungsi dengan baik sehingga kami tidak kesasar :D

- arry -


Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat
Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo
HP : 0878-4319-6105

You Might Also Like

0 komentar