Menyusuri Malioboro, Menikmati Pagi Terakhir di 2016


The Legendary Pasar Beringharjo.Berdiri sejak 1925 dan masih berfungsi menggerakkan roda ekonomi hingga saat ini.

 Hari terakhir di tahun 2016, Si Bocah masih libur sekolah, kepingin ikutan rame-ramean ah bareng turis di Malioboro. Pengen nyobain duduk-duduk di bangku trotoarnya yang sudah cantik beberapa minggu terakhir ini. Dan cita-cita utama pengen punya foto di bawah tulisan "Jl.Malioboro" biar nge-hits kayak fotonya turis-turis. Hihi.

Setelah memarkir kendaraan di Taman Parkir Abu Bakar Ali, kami pun menyeberang jalan menuju plang nama Jl.Malioboro. Dan kami terpana...............jam baru menunjukkan pukul 08.10 tapi orang-orang sudah mengantri untuk berfoto di spot ikonik tersebut. Hahaha....kalah pagi kami rupanya dengan para turis itu. Ya udah ngalah aja lah, besok-besok kami kan masih bisa ke sini lagi, tapi ya entah kapan. Wong ini aja udah 5 tahun tinggal di Jogja tapi ya belum terlaksana juga cita-citanya. Hahaha.

Ngantriiiiiii....! Ckckckck

Cukup begini saja lah. Ngalah dulu sama turis-turis. Besok-besok kita ke sini lagi. Besok, entah kapan :D

Gudeg Mbah Lindu
Agenda kami lainnya pagi itu adalah mencicip Gudeg Mbah Lindu yang terkenal karena penjualnya sudah berusia sepuh. Lokasi warung gudeg ini di Jl.Sosrowijayan, di samping Hotel Grage Ramayana. Dari jauh warung kecil di pinggir jalan itu terlihat ramai. Kami segera mengambil tempat duduk di bagian depan warung, mengantri untuk pesan gudeg. 

Warung gudeg Mbah Lindu

Pertama kali melihat sosok Mbah Lindu ini saya merasa takjub. Simbah ini terlihat lebih sepuh dibanding foto-fotonya yang pernah saya lihat di beberapa artikel media online. Saya menebak-nebak berapa kira-kira usia simbah ini. Bersama Mbah Lindu tampak seorang wanita setengah baya, mungkin anaknya, yang menemani simbah berjualan. Menurut ibu tersebut Mbah Lindu saat ini berusia 97 tahun. Usia hampir seabad dan masih tetap berkarya, wow banget deh ya. Salut sama semangat simbah satu ini.

Mbah Lindu, 97 tahun, masih semangat berjualan gudeg

Ibu berbaju biru ini menemani Mbah Lindu berjualan sekaligus menjadi penerjemah karena Simbah cuma bisa bahasa Jawa
Nasi gudeg krecek plus tahu, Rp.25.000. A little bit pricey kalau buat saya. Tapi bisa dimaklumi sih karena lokasinya di area wisata :)


Menyusuri Malioboro
Selesai makan gudeg kami lalu berjalan-jalan sepanjang Malioboro. Hitung-hitung bakar kalori gudeg yang barusan kami makan kan. Hehe.

"Mau sampai mana nih jalannya?"
"Sampai Beringharjo lah, sekalian sampai ujung."

Padahal ujungnya Malioboro itu di kawasan nol kilometer lho, bukan Pasar Beringharjo. Hahaha. Tapi lumayan kok, sampai Pasar Beringharjo saja itu sudah lebih dari 1.5 km jaraknya dari Taman Parkir Abu Bakar Ali.

Malioboro, angkringan, dan sepeda onthel. Jogja emang ngangenin ya?!

Malioboro sekarang memang sudah makin cantik. Pembenahan yang dilakukan beberapa waktu lalu, sekarang sudah terlihat hasilnya. Trotoar di kiri jalan yang tadinya banyak dipakai untuk tempat parkir motor, sekarang sudah bebas dari area parkir. Trotoar selebar 8 meteran terbentang di depan mata, terlihat bersih, dilengkapi bangku-bangku kayu, dan tersedia banyak tong sampah. Kami nyobain dong duduk-duduk di bangku kayunya. Sepagi itu saja sudah penuh itu bangku-bangkunya. Perlu jalan beberapa puluh meter baru dapat  bangku yang kosong. 

Numpang narsis :D

Puas berfoto di bangku kayu, rombongan sirkus keluarga kecil kami pun melanjutkan acara jalan-jalan di pagi hari itu. Beberapa warung makan lesehan terlihat sudah membuka warungnya. Sementara pedagang-pedagang makanan keliling juga sudah mulai menggelar dagangannya. Di sepanjang jalan terlihat banyak penjual terompet om telolet om tahun baru. Semua bersiap menyambut pergantian tahun nanti malam. Tampak sebuah panggung disiapkan di pinggir jalan. Beberapa orang sibuk mengangkut alat-alat musik karawitan dan sebagian lainnya menyiapkan batang pohon pisang. Oh rupanya nanti malam akan ada pertunjukan wayang kulit

Deretan penjual sate di dekat Malioboro Mall

Warung lesehan pun sudah buka dari pagi

Selain makin cantik dengan adanya bangku kayu, trotoar Malioboro sekarang lebih ramah difabel. Ada jalur khusus untuk penyandang tunanetra di tengah-tengah trotoar. Ah senangnya melihat hal ini, Malioboro sekarang benar-benar menjadi kawasan yang bisa dinikmati oleh semua orang. 

Garis-garis di tengah itu adalah jalur khusus penyandang tunanetra

Oh ya, ada satu lagi yang baru di Malioboro, sekarang di situ ada tap water lho. Lokasinya dekat Hotel Inna Garuda. Seumur-umur di Jogja, saya baru lihat tap water seperti ini di dua tempat. Selain di Malioboro, saya pernah lihat di Pasar Hewan Pasty Jl. Bantul. Tapi kami belum berani mencoba tap water ini, karena jujur aja, kami belum yakin sama higienitasnya. Takut sakit perut euy. Hihihi.

Belum berani nyoba. Hihi.


Pasar Beringharjo 
Sesuai kesepakatan awal, titik putar balik acara jalan kaki ini adalah di Pasar Beringharjo. Pasar tua yang juga menjadi bangunan ikonik kota Jogja ini terlihat ramai pagi itu. Musim liburan begini, pedagang batik di Beringharjo pasti ramai diserbu turis. Aneka batik dengan berbagai tingkatan harga dijual di sini. Tips berbelanja di Beringharjo, pintar-pintarlah menawar harga. Nah keahlian ini yang saya nggak punya, makanya saya jarang beli batik di sini. Hahaha.

Kalau ke Beringharjo, saya biasanya cari jajanan atau kulineran nyoba berbagai makanan yang dijual di sana. Di depan Beringharjo ada penjual onde-onde dan lumpia enak, tapi jualannya hanya di sore-malam hari. Lokasinya persis di seberang Mirota Batik. Kalau pagi dan siang hari di depan Beringharjo dipenuhi pedagang pecel dan bakpia. Saya sudah beberapa kali makan pecel di situ. Lumayan enak rasanya. Tapi siap-siap uang receh ya kalau makan di situ, soalnya pengamennya banyak banget. Kadang agak mengganggu juga sih, soalnya kayak nggak putus-putus itu pengamennya datang bergantian. Selain pecel, di sana ada penjual es dawet yang enak. Lokasinya dari pintu Beringharo (kalau kita menghadap Beringharjo) itu ke arah kiri. Pagi itu kami skip kulineran di Beringharjo karena perut kami masih kenyang makan gudeg tadi.


Penjual pecel di dekat pintu masuk Pasar Beringharjo

Pasar Pathuk
Destinasi terakhir kami pagi itu adalah Pasar Pathuk di Jl.Bhayangkara. Kalau pasar yang ini lokasinya sudah bukan di Malioboro lagi. Saya minta Si Ayah mampir sebelum pulang karena pingin beli jajanan tradisional yang dijual di sana. Saya tertarik pengen icip-icip jajanan tradisionalnya gara-gara lihat postingan seorang teman di medsos. 


Sampai di sana saya hanya menemukan satu orang penjual jajanan tradisional. Seorang mbah putri yang berjualan lupis, gatot, dan tiwul. Ternyata oh ternyata.....saya kesiangan datangnya. Hahaha. Karena cuaca berawan dan matahari ngumpet di balik awan, saya pikir masih pagi, ternyata sudah jam 10 lewat. Pantesan tadi di parkiran sudah sepi kendaraan.

"Niku wau jam enem tasih kebak uwong, mbak. Sak niki sampun sepi."
(Tadi jam enam di sini ramai, mbak. Kalau sekarang sudah sepi.)

Ya ya ya....baiklah mbah....lain kali saya ke sini lagi deh. Masih penasaran soalnya baru dapat dua bungkus lupis, sebungkus tiwul, dan sebungkus gatot. Eh....ternyata banyak juga ya. Hahahaha.


- arry -

You Might Also Like

4 komentar

  1. Pedestrian Malioboro memamg menjadi magnet bagi wisatawan. Sempat terpikirkan secara tidak langsung omset para penjual di trotoar PKL (kaos dll) berkurang.

    Tapi apapun itu, kita harusnya bangga melihat malioboro berbenah dan nyaman bagi pejalan kaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu pertamax gan. Komen pertama di blog ku nih. Hahaha...

      Btw omset menurun krn lahan jualannya berkurang kah maksudnya? Tp kan klo Malioboro jd bagus gitu lbh menarik wisatawan utk datang. Lebih banyak orang yg bisa ditawari dagangan. Hehe

      Hapus
  2. Hmmm... Udh lama banget ngga ke jogja. Baca tulisannya jadi pingin. Thanks...

    BalasHapus