Kopi Mukidi, Nama Yang Membawa Rejeki

Pak Mukidi, petani kopi asal Temanggung, pemiliki Kopi Mukidi dan penggagas konsep 'petani mandiri' di kalangan petani kopi di Temanggung.

Aneka guyonan dengan tokoh utama bernama Mukidi yang viral di dunia maya beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak ikut mendongkrak ketenaran petani kopi asal Temanggung ini. Mukidi adalah nama lahir yang diberikan orang tuanya, dan ia menjual produk kopi dengan merek Kopi Mukidi, sesuai dengan namanya. Jadi bukan gara-gara Mukidi tenar lalu nama tersebut dipakai Pak Mukidi untuk merek kopinya. Kopi Mukidi sudah ada jauh sebelum 'Mukidi yang itu' tenar :D


Pemandangan epic Sumbing - Sindoro dalam perjalanan menuju rumah Kopi Mukidi

Temanggung terkenal sebagai penghasil tembakau. Di sepanjang jalan banyak terlihat perkebunan tembakau milik warga.

Jalan masuk menuju rumah Kopi Mukidi. Ukurannya pas buat satu mobil doang :D

Tampak depan rumah Kopi Mukidi

Seperti petani kopi tradisional pada umumnya, Pak Mukidi awalnya menjual kopinya dalam bentuk biji kopi ke pasar. Harga rendah yang ditetapkan tengkulak membuat Pak Mukidi berpikir bahwa ia tidak akan menjadi petani kopi sejahtera jika hanya menjual kopi dalam bentuk bijian. Pak Mukidi memutar otak bagaimana caranya meningkatkan harga jual produk kopinya. Ia lalu meminta istrinya untuk belajar pada ibunya bagaimana cara menyangrai kopi yang biasanya dilakukan orang Jawa. Di banyak tempat di Pulau Jawa, saat disangrai kopi dicampur dengan kelapa, atau bahan lain seperti jagung dan beras untuk menambah citarasanya. Namun Pak Mukidi malah meminta istrinya untuk menyangrai hanya kopi saja, tidak ditambah bahan-bahan lain. Ini untuk membedakan produk kopinya dengan produk tetangga-tetangganya. Strategi diferensiasi Pak Mukidi ini berhasil. Banyak orang menyukai produk kopinya. Saat ini Pak Mukidi menerima order sangrai, jadi kita bisa membawa biji kopi sendiri lalu membayar jasa sangrainya.

Wangi kopi yang menyambut kami sejak melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini ternyata berasal dari sini


Lumayan gaul juga ya Pak Mukidi ini, akun medsosnya banyak :D

Untuk pelanggan yang ingin membeli produk kopi bubuk, juga tersedia di sini. Ada 3 merek yang dibuat Pak Mukidi untuk produk kopi bubuknya, yaitu Kopi Mukidi, Kopi Jowo, dan Kopi Lamsi. Ketiga merek ini terdiri dari beberapa jenis, seperti kopi arabika, robusta, kopi lanang, dan special blend. Yang membedakan ketiga merek ini adalah kualitas kopinya. Merek andalan Pak Mukidi adalah Kopi Mukidi, yang ini memiliki kualitas paling baik dan dijual dengan harga lebih mahal dibanding 2 merek lainnya.

Etalase display produk kopi yang dijual Pak Mukidi

Kopi Jowo dan Kopi Lamsi adalah second brand-nya Kopi Mukidi.
Waktu kami ke sana Kopi Lamsi stoknya sedng kosong, jadi tidak ada di display.

Di rumah Kopi Mukidi pengunjung juga bisa menikmati kopi yang diseduh Pak Mukidi dan para karyawannya. Kopi dengan aneka metode seduh manual ditawarkan di sini, seperti Vietnam drip, V60, shypon, french press, mokapot, dan juga kopi tubruk. Unik ya, mengingat lokasinya yang di tengah pedesaan, alat dan metode seduh manualnya terbilang lengkap dan modern. Yang agak disayangkan, tempat untuk menikmati kopi seduhan Pak Mukidi ini terbilang kurang representatif. Istilah anak jaman sekarang mah 'tidak instagrammable'. Hehe. Hanya ada beberapa meja kursi sederhana di rumah Pak Mukidi yang dijadikan tempat bagi para pengunjung untuk menikmati kopi seduh Pak Mukidi. Sebenarnya nggak aneh sih, mengingat cerita Pak Mukidi yang saat ini masih fokus di usaha sangrainya, dan belum fokus menjual kopi dalam bentuk produk akhir berupa kopi seduh. Ia pernah mencoba membuat kedai kopi di rest area Pringsurat, Semarang, namun hanya bertahan 5 bulan saja dan akhirnya terpaksa tutup. Penyebabnya karena kurang kontrol (jaraknya jauh) dan kinerja karyawannya tidak sesuai harapan.

Meja kursi yang disediakan Pak Mukidi untuk para pengunjung yang ingin menikmati seduhan kopinya

Di rumah Kopi Mukidi ini Pak Mukidi kerap membuka kelas seduh, ia mengajari siapa saja yang ingin belajar menyeduh kopi. Tak hanya itu, bagi yang ingin belajar seluk-beluk kopi mulai dari proses tanam hingga produk akhir, Pak Mukidi siap memberikan pelajarannya. Ini adalah bagian dari upayanya mewujudkan konsep 'petani mandiri' yang digagasnya. Konsep ini tak kenal lelah ia perkenalkan pada setiap tamu yang berkunjung dan mengobrol dengannya tentang kopi, juga saat ia berkesempatan bertemu dengan para petani dari pokja desa lain.

Area untuk menyeduh kopi

Piagam penghargaan yang pernah diterima Pak Mukidi, ditempel di dinding rumah Kopi Mukidi.

Liputan media cetak

Sementara untuk para petani di sekitar domisilinya, Pak Mukidi menularkan konsep 'petani mandiri' dengan cara memberikan contoh melalui kopi di kebunnya. Menurut Pak Mukidi, butuh waktu 3 tahun untuk menumbuhkan minat para petani di lingkungan sekitarnya untuk mengikuti jejaknya menanam kopi. Menjadi petani kopi yang menguasai pengetahuan dari hulu ke hilir, sejak menanam hingga memproses hasil panennya, akan membuat petani tersebut mampu membuat produk kopi yang lebih tinggi nilai jualnya dibanding hanya menjual dalam bentuk biji kopi. Hal ini akan membuat para petani bisa lepas dari ketergantungan pada tengkulak yang biasa membeli biji kopi mereka dengan harga rendah. Dengan menjual kopi dalam bentuk jadi atau setengah jadi, otomatis akan meningkatkan harga jual dan ujung-ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan para petani. Tren minum kopi yang kian marak di tengah masyarakat Indonesia saat ini kiranya akan mampu mendongkrak impian Pak Mukidi agar bisa segera terwujud.


- arry -


Kopi Mukidi
Dusun Jambon, Gandurejo, Bulu,
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah
Telp : 0877 1905 2174
Website : www.kopimukidi.com

You Might Also Like

2 komentar

  1. terimakasih telah berkunjung ke rumah saya dan catatannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Pak. Kami juga senang bisa berkunjung dan menyicip Kopi Mukidi :)

      Hapus