Kuliner Malam Di Simpang Lima Semarang


Jadi ceritanya waktu itu kita ke Semarang pas tanggal merah. Malamnya jalan-jalan ke Simpang Lima Semarang. Tujuan utama ke Semarang kali ini bukan buat liburan sih, tapi memenuhi undangan pernikahan temannya PakSu. Setelah browsing sana browsing sini, diputuskan untuk menginap di kawasan Simpang Lima aja, supaya malamnya bisa wiskul di situ. Wiskul malamnya Simpang Lima Semarang cukup terkenal juga rupanya.


Di kawasan tersebut warung-warung makanan digabung jadi satu, jadi menyerupai area foodcourt. Warung inceran kami adalah warung pecel Mbok Sador, termasuk salahsatu kuliner terkenal di Semarang. Dari hotel tempat kami menginap, Hotel Amaris Simpang Lima, cukup jalan kaki sekitar 10 menit saja sudah sampai di warung pecel ini. Jaraknya sih deket, tapi nyeberang jalannya perlu berkali-kali, mana malam liburan pula jadi jalanan juga ramai. Kudu ekstra hati-hati aja deh ya saat menyeberang.

Di balik meja pemesanan
Saat kami tiba di warung pecel Mbok Sador belum terlihat antrian panjang. PakSu segera membagi tugas : dia mengantri makanan dan saya kebagian mencari meja. Karena belum terlalu ramai, saya tidak kesulitan mencari tempat duduk. Belum selesai PakSu mengantri, satu persatu orang mulai berdatangan dan akhirnya antriannya jadi lumayan panjang. Tapi pelayan di warung pecel ini cukup sigap sehingga kami tak perlu lama mengantri untuk mendapatkan pesanan kami. Bagusnya di warung ini daftar harga tersedia di meja sehingga kita tidak perlu khawatir nanti terkaget-kaget saat membayar. Sudah banyak kan cerita tentang warung-warung makan di daerah wisata yang seneng ngasih "kejutan" ke pembeli saat di kasir. Yup, salahsatunya warung lesehan di Malioboro Jogja :p

Lama-lama antriannya jadi panjang juga
Dua porsi nasi pecel buat saya dan PakSu, dan nasi ayam goreng dari warung sebelah buat si Bocah, menjadi teman makan malam kami. Bumbu pecelnya terasa enak di lidah, tapi agak kepedesan buat saya. Sayang level kepedasannya nggak bisa milih, cuma ada satu macam sambal pecel saja. Sayurannya empuknya pas, tidak terlalu lembek. Walau pedas, nasi pecelnya tetep saya habisin tuh, soalnya enak. Hehehe. Kalau si Bocah sih tidak terlalu suka makanan pedas, makanya dipesankan nasi putih dengan lauk ayam goreng aja biar aman :D Berhubung di Mbok Sador nggak ada ayam goreng, jadi saya pesan dari warung sebelah.



Selesai makan, kami menyeberang jalan menuju lapangan Simpang Lima. Nama resmi lapangan ini sebenarnya adalah Lapangan Pancasila Semarang, tapi terlanjur terkenal dengan nama Simpang Lima. Kami ingin mencoba becak lampu yang sedari tadi kami lihat seliweran di pinggir lapangan. Sambil makan tadi saya perhatikan sepertinya seru kalau kami mencoba naik becak lampu. Di Jogja sudah pernah kami coba becak lampu seperti itu di Alun-alun Kidul, tapi itu sudah lama sekali. Jadi pingin naik lagi di Semarang.

Selain becak lampu ternyata juga ada sepeda tandem. Kami sih pilih yang becak lampu saja supaya bisa dinaiki bertiga dengan si Bocah. Rupanya becak lampunya beda dengan yang di Alkid Jogja. Kalau yang di Jogja pedal untuk mengayuhnya ada yang lebih dari satu sehingga semua penumpang bisa ikut mengayuh. Kalau yang di sini, pedal pengayuhnya cuma ada satu di bagian depan saja, jadi cuma PakSu deh yang ngayuh. Ayo tariiiiik mang! Hahaha. Untungnya kata PakSu, pengayuhnya tidak berat, jadi dia nggak keberatan deh mengayuh satu keliling penuh. Cukup membayar Rp.35.000 untuk satu kali putaran becak lampu ini, rasanya udah bikin happy :D

Tariiiikkkk Mang....! :D

Turun dari becak lampu, kami masuk ke dalam lapangan. Si Bocah tertarik dengan mainan ketapel lampu yang sedang dimainkan orang-orang di lapangan. Objek berlampu memang jadi terlihat menarik dimainkan di waktu malam begini. Ketapel lampunya terlihat bagus melayang-layang di udara. Si Bocah minta dibelikan satu ketapel lampu dan tak lama kemudian asik bermain dengan mainan barunya. Saya yang awalnya meminjam ketapel si Bocah, lama-lama kok jadi rebutan. Akhirnya beli satu lagi deh. Mainan sepuluh ribuan ini rupanya cukup ampuh bikin senang tidak cuma anak-anak tapi juga emaknya. Hahaha.

Anak senang......

......emak pun riang :D

Malam itu di lapangan Simpang Lima cukup banyak orang yang datang. Banyak anak kecil berlarian di tengah lapangan. Di sisi lapangan yang lain terlihat sekumpulan remaja sedang bermain basket. Ya, di lapangan nan luas ini juga tersedia lapangan basket lengkap dengan lampunya sehingga bisa dipakai saat malam hari. Beberapa pedagang makanan kecil dan minuman terlihat berjualan di pinggir lapangan. Sambil menunggu si Bocah bermain, PakSu memesan segelas kopi panas. Senang sekali rasanya membaur bersama warga setempat sambil menikmati malam seperti ini.

Puas leyeh-leyeh di lapangan Simpang Lima, kami pun kembali ke hotel. Di perjalanan menuju hotel kami mampir di warung es puter Cong Lik. Ini juga salahsatu kuliner terkenal di Semarang yang lokasinya di dekat Hotel Citraland, dekat dengan kawasan Simpang Lima. Bukanya hanya malam hari, sekitar jam 18.00 warungnya baru buka. Awalnya agak aneh waktu tahu kalau jam buka warung es kok malam hari. Tapi udara Semarang memang panas begitu, jadi rasanya makan es puter malam hari juga enak.



Rasa es puter yang tersedia ada empat macam : durian, coklat, kelapa, dan alpukat. Konon es puter di warung ini dibuat dari bahan-bahan alami termasuk buah-buahannya, sehingga rasa es krim yang tersedia bisa berubah-ubah sesuai buah yang sedang musim. Penasaran dengan nama Cong Lik yang awalnya saya pikir karena pemiliknya beretnis Tionghoa, ternyata tebakan saya salah. Berdasarkan info dari Eyang Google, nama Cong Lik ternyata adalah singkatan dari "kacong cilik" (kacung cilik atau pembantu kecil). Pemilik warung es puter ini, Pak Sukimin, saat kecil dulu pernah menjadi pelayan orang Jepang yang tinggal di Semarang. Setelah Jepang pergi dari Indonesia, Pak Sukimin lalu bekerja membantu seorang pedagang es puter. Ia pun lalu belajar membuat es puter dan merintis usahanya hingga menjadi terkenal seperti sekarang.

Es puter dan aneka topping yang bisa dipilih sesuai selera

Kami memesan dua porsi es puter, yang satu rasa durian dan satunya lagi rasa alpukat. Es puter yang pembuatannya dengan cara tradisional ini terasa lembut di lidah. Manisnya pun terasa pas. Sungguh segar menikmati dinginnya es puter di udara malam yang panas.

Yummy....!

Selesai makan es puter kami kembali berjalan kaki menuju hotel. Sampai di hotel kami bergegas packing. Lalu bersiap-siap tidur karena besok kami akan pulang ke Jogja.


- arry -


Pecel Mbok Sador
Jl.Pahlawan No 1A, Simpang Lima Semarang
Jam buka : 17.00 - 23.00 WIB
Harga makanan : Rp.1.000 - Rp.8.000

Es Puter Cong Lik
Jl.KH Ahmad Dahlan no 11, Semarang
Jam buka : 18.00 - 24.00 WIB
Harga : Rp.15.000 - Rp.20.000

You Might Also Like

0 komentar